Aku Pulang, Ma

Nyaris sembilan tahun ia hidup setengah hati

Hari demi hari dijalani hanya dengan mengenang

Hanya bisa menangisi batu berukir nama berhampar rumput

Memeluk erat, sambil menangis terisak

Namun hari ini Bapak pergi

Dihantar seluruh bangsa dengan air mata yag menggenang

Tak perlu lagi Bapak mengenang ibu sambil berlutut

Berjalanlah dalam terangnya amalan ilmumu, Pak

Peluklah Ibu seraya berkata, “Aku pulang, Bu.”

Selamat beristirahat dalam damai, Pak Habibie. 🛬

(Image by Ghosty Comics)

Dialog (3)

A: Dengar-dengar kamu sudah hijrah ya?

B: Iya nih, alhamdulillah

A: Oh gitu. Tapi sudah taubat?

B: Belum

A: Pantes.

Ketika Harus Memilih…

Setelah sekian lama tidak menulis panjang lebar di blog, akhirnya saya memutuskan untuk mencurahkan isi kepala ke dalam sebuah tulisan panjang (ya nggak panjang-panjang amat sih, tapi ya lumayan lah). Belakangan ini daripada ngeblog saya lebih aktif ngetwit. Alasannya sederhana; banyak orang yang bisa diajak berinteraksi dan membicarakan berbagai macam hal. Mulai dari makanan (ini yang paling penting), teknik memasak, anime, absurditas anonim di internet, filosofi, radikalisme, hingga politik dalam negeri.

Semua menyenangkan untuk dibicarakan secara panjang lebar dalam utas-utas di twitter, namun untuk yang terakhir, saya agak jaga jarak. Banyak sekali orang yang mengeluh tentang betapa bosannya mereka dengan konten copras-capres yang berseliweran di linimasa mereka. Ada beberapa momen di mana saya merasa seperti diizinkan untuk ngetwit tentang copras-capres, seperti misalnya saat debat Capres dan Cawapres.

Dari debat tersebut, banyak sekali kejadian yang dapat dijadikan konten untuk ditwitkan. Mulai dari yang serius seperti apa visi misi para Capres dan Cawapres, salah bicaranya mereka, hingga tingkah laku mereka yang mengundang tawa. Debat capres bagi saya bagaikan menonton Srimulat dengan versi yang lebih ringan, lebih tidak lucu, dan konten yang kurang berisi. Cukup menyenangkan ngetwit tentang hal-hal ini. Namun kali ini, yang mau saya tulis bukanlah tentang debatnya, namun tentang salah satu calon yang bertarung di pilpres 2019: Joko Widodo.

Perkenalan Dengan Joko Widodo, Walikota Solo

Tulisan ini kurang lebih berisi tentang perkenalan dan kekecewaan saya terhadap sosok seorang Joko Widodo. Tapi tenang saja, saya bukan Kampret, bukan juga Cebong. Tulisan ini bukan untuk menggiring opini, melainkan adalah sebuah curahan hati saya terhadap sosok politikus yang tadinya saya kira dapat memikul harapan saya untuk mengubah Indonesia menjadi lebih baik. Tulisan ini pun tidak menyertakan sumber data karena kebanyakan sumber data berupa majalah yang hanya tersedia dalam bentuk fisik. Sayangnya, saya tidak punya waktu membongkar gudang untuk mencari majalah-majalah tersebut. Majalah yang saya gunakan sebagai sumber adalah majalah Rolling Stone terbitan tahun 2011 (lupa bulannya) dan beberapa edisi majalah tempo yang disebutkan di tulisan BBC Indonesia ini (https://www.bbc.com/indonesia/majalah/2011/08/110804_tokohjokowidodo). Namun demikian, saya jamin tulisan ini bukan tidak berdasar, bukan hoax, namun dibuat berdasarkan ingatan.

Joko Widodo. Pertama kalinya seumur hidup saya melihat dan mengenal sosok itu dalam sebuah majalah gaya hidup. Rolling Stone Indonesia atau RSI. Dalam artikel yang ditulis oleh Candra Malik di majalah RSI yang terbit di tahun 2011 itu, ditulis sosok Joko Widodo yang pada masa itu adalah Walikota Solo. Artikel tersebut sebenarnya bisa diakses melalui situs RSI, namun sayangnya RSI Indonesia sudah bubar sehingga situsnya pun ikut bubar dan tidak bisa diakses lagi.

Dalam artikel tersebut ditulis sosok Joko Widodo (Jokowi) sebagai Walikota Solo sekaligus seorang metalhead dan Forester. Saya takjub membaca artikel tersebut. Pertama, sebagai Walikota Solo, Jokowi berhasil menata pasar di Solo dari yang tadinya semerawut menjadi sebuah pasar modern yang nyaman untuk dikunjungi. Rasa takjub saya berangkat dari bagaimana seorang birokrat mampu menata pasar yang sudah lama semerawut. Pasar adalah sebuah tempat yang kerapkali menjadi sesuatu yang untouchables. Tidak tersentuh. Dikuasai oleh para preman yang dibekingi orang-orang penting menjadi alasan mengapa pasar sulit diatur. Namun entah bagaimana, Jokowi berhasil berkompromi dan menyulap pasar yang kumuh menjadi pasar yang nyaman untuk dikunjungi.

Ketakjuban saya yang kedua adalah bagaimana dengan terang-terangan ia mengakui bahwa dirinya seorang metalhead. Terus terang saja sebagai fans musik metal, kaget juga mendengar kalau ada pejabat Indonesia yang mengakui dirinya sebagai fans musik yang kerapkali diasosiasikan dengan hal-hal negatif seperti alkohol dan satanisme. Waktu itu saya anak kuliahan semester 7-an. Sedang sibuk skripsi. Masih apatis terhadap politik. Membaca profil Jokowi seakan memberi harapan baru kepada politik Indonesia. “Yang kayak begini nih yang asik. Semoga bisa lah jadi presiden.”

Pergi Ke Jakarta Bertarung, Menang, dan Berjaya

Langkah politik Jokowi setelah sukses menjadi Walikota Solo dapat dibilang drastis. Ia melewati fase menjadi Gubernur Jawa Tengah, dan langsung menantang posisi Gubernur DKI Jakarta yang tentunya jauh lebih bergengsi karena statusnya sebagai Daerah Khusus Ibukota. Di Jakarta, Jokowi berpasangan dengan sosok yang tidak kalah gilanya. Sosok seorang minoritas yang bukan minoritas biasa. Ia adalah triple minority. Kristen. Cina. Jujur. Namanya Basuki Tjahaya Purnama atau lebih dikenal dengan Ahok. Ahok adalah mantan Bupati Belitung yang dikenal berhasil mengubah Belitung menjadi tempat yang ramah terhadap turis. Ia juga dikenal keras dalam berpendapat -sebuah sifat yang pada akhirnya membuatnya terpeleset dan jatuh.

Yang menarik lagi, mereka berdua didukung oleh dua sosok yang pernah clash di masa lampau: Megawati Soekarno Putri dan Prabowo Subianto. Pada saat mengajukan Jokowi dan Ahok sebagai calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, PDIP adalah partai lama yang sudah lama tidak memenangkan kontestasi politik yang penting, kalah oleh rising star, Partai Demokrat dan old guard Politik Indonesia: Partai Golongan Karya. Sedangkan Partai Gerindra (yang sekarang memiliki suara nomor 2 terbesar di Indonesia) merupakan partai baru yang masih memiliki elektabilitas rendah, namun memiliki sosok kawakan dalam diri Prabowo Subianto.

Jokowi maju sebagai wakil PDIP, dan Ahok maju sebagai wakil dari Gerindra. Mereka berhadapan dengan Gubernur petahana Fauzi Bowo dan wakilnya Nachrowi Ramli dari partai Demokrat. Dengan hanya didukung oleh 2 partai politik (PDIP dan Gerindra), Jokowi dan Ahok berhasil memenangkan pemilihan gubernur DKI 2012 dengan cukup telak. Hasil yang sangat memuaskan bagi saya mengingat Jakarta yang amburadul oleh Fauzi Bowo dan tingkah laku rasis Nachrowi Ramli dalam debat Cagub di televisi nasional.

Tentu saya ikut senang dan menaruh harapan tinggi kepada 2 orang ini. Namun ternyata kemenangan ini menjadi awal kekecewaan saya terhadap Jokowi.

Mengejar Hasil Yang Lebih Tinggi; Dari DKI ke RI

Di awal masa kepemimpinannya sebagai Gubernur DKI, Jokowi sempat berseloroh bahwa ia tidak akan maju sebagai calon presidan di Pilpres 2014, sebagaimanapun rakyat menginginkannya dilihat dari hasil survey. Ia berjanji bahwa ia akan menuntaskan masa baktinya di Jakarta sampai 2017. Namun sayang beribu sayang, janji itu tidak ia tepati. Alasannya, karena ada panggilan yang lebih besar katanya. Ini adalah titik kekecewaan pertama saya terhadap Jokowi. Mungkin ada beberapa alasan mengapa ia mencalonkan diri jadi presiden; 1. Memang kepingin, 2. Disuruh Megawati sebagai petugas partai, 3. Ada kesempatan. Bagi saya, ketiganya adalah alasan yang “nggak banget.” Memang kepingin? Syahwat berkuasa tinggi. Disuruh Megawati? Elah cemen. Ada kesempatan? Kek Bang Napi dong. Jadi ya, tidak ada alasan untuk Jokowi menjadi Capres di pilpres 2014 dan meninggalkan Jakarta.

Meski demikian, ada satu sisi positif dari hal tersebut: merasakan kegilaan Ahok menjadi Gubernur DKI Jakarta. Sejujurnya, seumur hidup, politikus Indonesia yang paling saya nikmati sepak terjangnya adalah Ahok. Saya tidak ngefans sama beliau, tapi sejujurnya, saya melihat diri saya sendiri dalam sosok Ahok. Ahok adalah orang yang tidak ragu menegur dengan keras orang yang salah. Tanpa tedeng aling-aling dia bakal bilang tai, bilang pencuri, dan lain-lain. Bagi saya, orang yang seperti ini ideal untuk jadi pemimpin di Indonesia. Tabiat orang Indonesia yang suka cengar-cengir atau sok sopan saat bikin salah memang harus digoblog-goblogi. Contoh sederhana, ketika seorang kernet bus meminta jalan dengan menunduk dan memberi jempol, padahal ia masuk dari lajur yang salah. Apa itu namanya itu kalau bukan goblog?

Selain itu, Ahok, dengan tangan besinya juga berhasil mengubah beberapa bagian Jakarta dari sesuatu yang kumuh dan tidak sedap dihidupi menjadi sesuatu yang enak dilihat seperti Tanah Abang misalnya. Sayangnya, perubahan itu dengan mudahnya mendapatkan ctrl+z treatment dari gubernur selanjutnya. Sejujurnya, bagi saya, butuh watak keras seperti Ahok untuk memaksa mengubah tabiat orang-orang Indonesia. Meski ada 2 kekurangan fatal: Pertama, menimbulkan musuh yang berdendam kesumat, kedua, atas nama adat ketimuran yang entah apalah itu, akan sangat mudah menggoreng tingkah laku Ahok untuk mengubah opini masyarakat. Sayangnya, hal itu berhasil dieksploitasi oleh lawan Ahok dan ia pun jatuh dari kejayaannya.

Oke, balik lagi ke Jokowi. Kekecewaan saya selanjutnya dari Jokowi adalah ketika ia memilih Jusuf Kalla sebagai wakil presiden. Alasannya, Jusuf Kalla adalah bagian dari old guard sistem perpolitikan di Indonesia yang membuat Indonesia mandeg. JK adalah kader Golkar, sementara menurut saya, Indonesia butuh kebaruan. Sayangnya, kontestasi politik di Indonesia berkata lain. JK adalah pilihan yang aman apabila Jokowi ingin menang di pilpres 2014, apalagi lawannya adalah Prabowo dan Hatta Rajasa yang sudah melanglangbuana di perpolitikan Indonesia. Tentu bukan lawan yang mudah untuk dikalahkan dengan sumber daya yang terbatas. Hebatnya, akhirnya Jokowi berhasil mengalahkan Prabowo dan Hatta Rajasa. Satu hal yang patut disayangkan dalam pilpres ini adalah, dimulainya politik identitas yang blak-blakkan di Indonesia, yang entah sampai kapan akan berkobar.

Presiden RI dan Janji Yang Tak Ditepati

Salah satu janji Jokowi yang saya ikuti adalah janji penyelesaian masalah HAM, terutama masalah PKI. Saya bukan simpatisan PKI atau Komunisme, bagi saya, itu adalah ideologi usang dan utopis yang tidak akan bisa diaplikasikan pada suatu entitas seluas dan sebesar negara. It’s a total bullcrap. Tapi bagi saya, apa yang terjadi pada simpatisan PKI di masa lampau, terutama orang-orang yang tidak terlibat secara langsung dengan partai, juga anak-anaknya yang terkena stigma, harus ada kejelasan sejarah di situ. Jokowi sempat berkelakar akan menuntaskan masalah ini, namun pada akhirnya ia tidak melakukan hal apa-apa.

Begitu pula dengan kasus lain seperti kerusuhan 1998. Kerusuhan bernuansa etnis ini meninggalkan banyak luka dan trauma di kalangan masyarakat terutama etnis Tionghoa di Indonesia. Namun kembali, kasus kerusuhan yang sistematis ini bak tidak pernah ada titik terang. Begitu pula kasus Munir. Polycarpus sudah keluar dari penjara, sementara otaknya (bukan otaknya Polycarpus ya) masih berkeliaran.

Membuka tabir masa lalu sejarah suatu negara tentu bukan sebuah kebijakan yang populer. Boleh lah kita bilang keluarga korban dan komunitas akademik akan sangat berterima kasih akan hal tersebut. Akan tetapi, apakah ratusan juta rakyat yang lain akan berpikir hal yang sama? Rasanya tidak.

Ini adalah kekecewaan ketiga saya terhadap Jokowi. Lama kelamaan, Jokowi menjadi “just another politician,” dengan segala janjinya. Banyak janji Jokowi yang belum atau tidak ditunaikan. Sebenarnya masih ada setitik harapan bahwa jika Jokowi menang di Pilpres 2019, maka Jokowi akan menuntaskan janji-janji besarnya di paruh kedua masa jabatannya sebagai presiden. Alasannya sederhana; tidak ada beban bagi Jokowi untuk terpilih lagi di 2024. Meski begitu, saya sangsi kalau itu akan terjadi. Politik Indonesia yang seperti benang pagujud adalah alasannya.

Pilpres 2019: The Righteous Game

Sore itu, saya menyaksikan televisi. Ada sebuah Breaking News: Jokowi sudah menetapkan cawapresnya. Breaking news mahapenting itu ditemani oleh berita selewat di mana Mahfud MD diisukan sudah menjahit baju putih yang senada dengan Jokowi. Bagi saya ini pertanda baik. Mahfud MD akan menjadi Cawapres Jokowi. Saya suka sosok Mahfud MD. Dalam situasi di mana politik identitas menjadi mainannya, Mahfud MD yang dikenal moderat akan memberi angin segar bagi kubu Jokowi sehingga mereka dapat menjauh dari pusaran Righteous Game (permainan ke-kanan-kanan-an, istilah yang saya buat sendiri untuk menyebut politisasi islam di Indonesia).

Sosok Mahfud MD pun sudah sejak jauh-jauh hari diisukan akan mendampingi Jokowi. Hal ini diperkuat dengan pernyataan orang-orang dekat Jokowi tentang Cawapres berinisial “M.” Ketika semuanya terlihat meyakinkan dan saya pun sudah memantapkan diri untuk memilih Jokowi di pilpres 2019, muncullah nama baru yang sama sekali tidak saya duga: KH Ma’aruf Amin. JRENG JREEENGGG.

Seketika saya bengong tidak percaya. The hell man? Ini kan orang yang menjebloskan Ahok ke penjara? Orang yang fatwanya membuat ada demo demo nggak penting bikin ribut satu negar? Kenapa dia? Inilah puncak kekecewaan saya pada Jokowi. Dari situ saya sudah tahu, Jokowi akan memainkan politik identitas untuk menyerang balik kubu Prabowo. Wajar? Sangat wajar. Makadari itu saya tidak setuju. Saya juga salah sih. Saya masih saja mencoba percaya kalau Jokowi ini progresif. Ternyata tidak. Pada akhirnya pun ia tetap mendekatkan diri pada orang-orang lama di perpolitikan Indonesia. Basi.

Konon hal ini terjadi akibat beberapa partai koalisi yang mengancam hengkang apabila KHMA tidak menjadi cawapres Jokowi. Mereka akan membentuk poros ketiga yang akan memperburuk keadaan untuk Jokowi. Benar atau tidaknya saya tidak tahu.

Setelah memilih KHMA menjadi cawapresnya, ternyata kubu Jokowi malah terbukti berbalik memainkan politik identitas. Bagi saya, politik identitas memang bisa saja menjadi senjata ampuh untuk merengkuh suara. Tapi itu cara sampah. Sisa-sisa dari politik identitas tidak akan dapat dibersihkan begitu saja. Politik identitas ini menebar benih “Kami dan Kalian” sesuatu yang goblog apabila dipraktikkan ke masyarakat Indonesia yang heterogen. Kelak, benih ini akan tumbuh menjadi bunga-bunga perbedaan yang baunya lebih busuk daripada bau bangkai. Bayangkan, baru bertunaspun baunya sudah menyengat bagai mayat yang membusuk di ruang hangat.

Jadi Pilih Siapa?

Sedihnya, dengan segala kekecewaan saya kepada Jokowi pun saya tidak sampai hati untuk memilih Prabowo. Meski sangsi dengan Jokowi, setidaknya saya masih menaruh setitik harapan. Siapa tahu Jokowi bisa masuk ke mode overdrive dan membawa perubahan yang progresif di Indonesia. Sementara Prabowo adalah kartu mati bagi saya. Tidak ada alasan untuk memilih dia. Melihat dari apa yang ia sampaikan ketika debat saja dapat diketahui bahwa Prabowo adalah seorang realis sejati. Saya ragu kalau negara seperti Indonesia dapat dibawa dengan pandangan realis ke kancah politik global. Dengan hal ini pun saya sudah tidak cocok. Apalagi apabila ditambah dengan track record masa lalunya. Dalam debat terakhir, hampir semua argumennya dapat dipatahkan dengan suatu kalimat yang walaupun ad hominem, tapi akan menjadi skakmat untuk dirinya; “Bukannya mantan mertua elu ya yang mulai?”

Dari paragraf di atas, sudah ketahuan ya pilihan saya. Pada akhirnya, Pilpres 2019 ini benar-benar menyebalkan. Memilih pun karena terpaksa. Yah, mungkin suatu hari kita akan dihadapkan pada pilihan calon pemimpin yang kita pilih karena memang kita ingin, karena kita merasa ia pantas memimpin kita. Kapankah suatu hari itu akan datang? Entahlah. Mungkin 2024, mungkin setelah kiamat. Tidak ada yang tahu.

 

Dialogue (2)

Man: hhhh.. *smile*

Friend: Did the boss said anything when he summoned you to his room?

Man: Yes. And thanks to that, I have a good news and a bad news.

Friend: Whoa… you’re okay?

Man: Yeah. Which news you want to hear first?

Friend: Well… the bad news…? I guess..

Man: Okay. Boss said that I’ll get fired in two weeks.

Friend: Oh no… I’m sorry to hear that

Man: The good news is, I have a stadium 4 lung cancer.

Friend:….

Dialog. (1)

A: rugi dong lo kalau ga percaya Tuhan, tapi nggak minum alkohol, nggak makan babi, nggak ewita sana sini.

B: nggak juga sih. Kalau ternyata Tuhan bener ada, paling nggak aing lebih sebentar di nerakanya daripada maneh.

Sepedaku

Sepeda ini adalah hadiah kelulusan. Sepeda yang nyaman dengan segala kemeriahannya. Bersadel kuning, berkayuh merah, dengan kemudi hitam berhias pita berwarna-warni. Berbadan biru, dengan ban abu-abu serta hitam. Ada lampu berwarna oranye sebagai pertanda berhenti.

Aku suka sekali sepeda ini. Tiap hari kurawat dan kupakai berkeliling kompleks. Mengayuhnya membuatku melupakan segala masalahku. Tak peduli apa orang bilang.

Tapi suatu hari, aku tak sengaja melindas batu besar. Aku terjatuh. Ban depannya penyok. Kayuhnya patah. Sepedaku rusak. Tak bisa diperbaiki. Aku sedih.

Aku coba perbaiki, tapi tidak bisa. Mungkin aku memang kurang handal. Aku tak mau mengganti ban depanku. Aku tak mau mengganti kayuh yang patah. Mungkin aku keras kepala. Tapi apalah artinya sepedaku kalau kayuhnya tidak merah dan bannya tidak hitam?

Aku simpan sepedaku di garasi. Mungkin suatu saat bisa aku perbaiki dan kendarai.

Setahun berlalu, sepeda itu masih tetap di garasi. Teronggok tidak bergerak. Mungkin itulah nasibnya. Sepedaku tak lagi bisa berlari.

Selamat tinggal sepeda. Terima kasih sudah menjadi sahabat yang baik selama beberapa tahun.

Rubuh

Aku tidak pernah membahas ini dengan orang lain. Hanya dengan mereka yang terkait. Terlalu sakit untuk dibicarakan. Tapi sekarang sakitnya sudah berangsur hilang. Entah aku yang kebas atau bagian yang luka sudah teramputasi. Sepertinya yang kedua.

Persahabatan adalah sebuah hal yang menakjubkan. Ada rasa senang, nyaman, dan aman di sana. Persahabatan adalah hal yang penuh tawa, air mata bahagia pun sedih, juga celotehan nakal.

Persahabatan bagiku, bagai menara Jenga. Disusun sampai tinggi, terlihat solid namun sebenarnya rapuh. Ketika terlihat makin tinggi, maka ia semakin rapuh. Karena tanpa sadar, kau ambil fondasinya untuk meninggikan menaranya.

Mungkin itu salahku? Terlalu banyak fondasi yang berubah, sehingga lupa kalau ia rapuh. Pada akhirnya ia pun rubuh.

Setelah rubuh, ia tidak bisa berdiri lagi.

Piring yang pecah ketika disatukan tetap terlihat retak. Aku tidak mau. Apalah artinya persahabatan dengan senyum yang dipaksakan, jabat tangan yang tidak tulus, dengan hati yang luka?.

Baiknya, kita sudahi saja. Yang baik dan pernah terjadi, simpan dalam hati. Yang buruk, jangan dilupakan.

🧑🧑🧑🧑👩🏻👩🏻👩🏻

🚲