Ketika Harus Memilih…

Setelah sekian lama tidak menulis panjang lebar di blog, akhirnya saya memutuskan untuk mencurahkan isi kepala ke dalam sebuah tulisan panjang (ya nggak panjang-panjang amat sih, tapi ya lumayan lah). Belakangan ini daripada ngeblog saya lebih aktif ngetwit. Alasannya sederhana; banyak orang yang bisa diajak berinteraksi dan membicarakan berbagai macam hal. Mulai dari makanan (ini yang paling penting), teknik memasak, anime, absurditas anonim di internet, filosofi, radikalisme, hingga politik dalam negeri.

Semua menyenangkan untuk dibicarakan secara panjang lebar dalam utas-utas di twitter, namun untuk yang terakhir, saya agak jaga jarak. Banyak sekali orang yang mengeluh tentang betapa bosannya mereka dengan konten copras-capres yang berseliweran di linimasa mereka. Ada beberapa momen di mana saya merasa seperti diizinkan untuk ngetwit tentang copras-capres, seperti misalnya saat debat Capres dan Cawapres.

Dari debat tersebut, banyak sekali kejadian yang dapat dijadikan konten untuk ditwitkan. Mulai dari yang serius seperti apa visi misi para Capres dan Cawapres, salah bicaranya mereka, hingga tingkah laku mereka yang mengundang tawa. Debat capres bagi saya bagaikan menonton Srimulat dengan versi yang lebih ringan, lebih tidak lucu, dan konten yang kurang berisi. Cukup menyenangkan ngetwit tentang hal-hal ini. Namun kali ini, yang mau saya tulis bukanlah tentang debatnya, namun tentang salah satu calon yang bertarung di pilpres 2019: Joko Widodo.

Perkenalan Dengan Joko Widodo, Walikota Solo

Tulisan ini kurang lebih berisi tentang perkenalan dan kekecewaan saya terhadap sosok seorang Joko Widodo. Tapi tenang saja, saya bukan Kampret, bukan juga Cebong. Tulisan ini bukan untuk menggiring opini, melainkan adalah sebuah curahan hati saya terhadap sosok politikus yang tadinya saya kira dapat memikul harapan saya untuk mengubah Indonesia menjadi lebih baik. Tulisan ini pun tidak menyertakan sumber data karena kebanyakan sumber data berupa majalah yang hanya tersedia dalam bentuk fisik. Sayangnya, saya tidak punya waktu membongkar gudang untuk mencari majalah-majalah tersebut. Majalah yang saya gunakan sebagai sumber adalah majalah Rolling Stone terbitan tahun 2011 (lupa bulannya) dan beberapa edisi majalah tempo yang disebutkan di tulisan BBC Indonesia ini (https://www.bbc.com/indonesia/majalah/2011/08/110804_tokohjokowidodo). Namun demikian, saya jamin tulisan ini bukan tidak berdasar, bukan hoax, namun dibuat berdasarkan ingatan.

Joko Widodo. Pertama kalinya seumur hidup saya melihat dan mengenal sosok itu dalam sebuah majalah gaya hidup. Rolling Stone Indonesia atau RSI. Dalam artikel yang ditulis oleh Candra Malik di majalah RSI yang terbit di tahun 2011 itu, ditulis sosok Joko Widodo yang pada masa itu adalah Walikota Solo. Artikel tersebut sebenarnya bisa diakses melalui situs RSI, namun sayangnya RSI Indonesia sudah bubar sehingga situsnya pun ikut bubar dan tidak bisa diakses lagi.

Dalam artikel tersebut ditulis sosok Joko Widodo (Jokowi) sebagai Walikota Solo sekaligus seorang metalhead dan Forester. Saya takjub membaca artikel tersebut. Pertama, sebagai Walikota Solo, Jokowi berhasil menata pasar di Solo dari yang tadinya semerawut menjadi sebuah pasar modern yang nyaman untuk dikunjungi. Rasa takjub saya berangkat dari bagaimana seorang birokrat mampu menata pasar yang sudah lama semerawut. Pasar adalah sebuah tempat yang kerapkali menjadi sesuatu yang untouchables. Tidak tersentuh. Dikuasai oleh para preman yang dibekingi orang-orang penting menjadi alasan mengapa pasar sulit diatur. Namun entah bagaimana, Jokowi berhasil berkompromi dan menyulap pasar yang kumuh menjadi pasar yang nyaman untuk dikunjungi.

Ketakjuban saya yang kedua adalah bagaimana dengan terang-terangan ia mengakui bahwa dirinya seorang metalhead. Terus terang saja sebagai fans musik metal, kaget juga mendengar kalau ada pejabat Indonesia yang mengakui dirinya sebagai fans musik yang kerapkali diasosiasikan dengan hal-hal negatif seperti alkohol dan satanisme. Waktu itu saya anak kuliahan semester 7-an. Sedang sibuk skripsi. Masih apatis terhadap politik. Membaca profil Jokowi seakan memberi harapan baru kepada politik Indonesia. “Yang kayak begini nih yang asik. Semoga bisa lah jadi presiden.”

Pergi Ke Jakarta Bertarung, Menang, dan Berjaya

Langkah politik Jokowi setelah sukses menjadi Walikota Solo dapat dibilang drastis. Ia melewati fase menjadi Gubernur Jawa Tengah, dan langsung menantang posisi Gubernur DKI Jakarta yang tentunya jauh lebih bergengsi karena statusnya sebagai Daerah Khusus Ibukota. Di Jakarta, Jokowi berpasangan dengan sosok yang tidak kalah gilanya. Sosok seorang minoritas yang bukan minoritas biasa. Ia adalah triple minority. Kristen. Cina. Jujur. Namanya Basuki Tjahaya Purnama atau lebih dikenal dengan Ahok. Ahok adalah mantan Bupati Belitung yang dikenal berhasil mengubah Belitung menjadi tempat yang ramah terhadap turis. Ia juga dikenal keras dalam berpendapat -sebuah sifat yang pada akhirnya membuatnya terpeleset dan jatuh.

Yang menarik lagi, mereka berdua didukung oleh dua sosok yang pernah clash di masa lampau: Megawati Soekarno Putri dan Prabowo Subianto. Pada saat mengajukan Jokowi dan Ahok sebagai calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, PDIP adalah partai lama yang sudah lama tidak memenangkan kontestasi politik yang penting, kalah oleh rising star, Partai Demokrat dan old guard Politik Indonesia: Partai Golongan Karya. Sedangkan Partai Gerindra (yang sekarang memiliki suara nomor 2 terbesar di Indonesia) merupakan partai baru yang masih memiliki elektabilitas rendah, namun memiliki sosok kawakan dalam diri Prabowo Subianto.

Jokowi maju sebagai wakil PDIP, dan Ahok maju sebagai wakil dari Gerindra. Mereka berhadapan dengan Gubernur petahana Fauzi Bowo dan wakilnya Nachrowi Ramli dari partai Demokrat. Dengan hanya didukung oleh 2 partai politik (PDIP dan Gerindra), Jokowi dan Ahok berhasil memenangkan pemilihan gubernur DKI 2012 dengan cukup telak. Hasil yang sangat memuaskan bagi saya mengingat Jakarta yang amburadul oleh Fauzi Bowo dan tingkah laku rasis Nachrowi Ramli dalam debat Cagub di televisi nasional.

Tentu saya ikut senang dan menaruh harapan tinggi kepada 2 orang ini. Namun ternyata kemenangan ini menjadi awal kekecewaan saya terhadap Jokowi.

Mengejar Hasil Yang Lebih Tinggi; Dari DKI ke RI

Di awal masa kepemimpinannya sebagai Gubernur DKI, Jokowi sempat berseloroh bahwa ia tidak akan maju sebagai calon presidan di Pilpres 2014, sebagaimanapun rakyat menginginkannya dilihat dari hasil survey. Ia berjanji bahwa ia akan menuntaskan masa baktinya di Jakarta sampai 2017. Namun sayang beribu sayang, janji itu tidak ia tepati. Alasannya, karena ada panggilan yang lebih besar katanya. Ini adalah titik kekecewaan pertama saya terhadap Jokowi. Mungkin ada beberapa alasan mengapa ia mencalonkan diri jadi presiden; 1. Memang kepingin, 2. Disuruh Megawati sebagai petugas partai, 3. Ada kesempatan. Bagi saya, ketiganya adalah alasan yang “nggak banget.” Memang kepingin? Syahwat berkuasa tinggi. Disuruh Megawati? Elah cemen. Ada kesempatan? Kek Bang Napi dong. Jadi ya, tidak ada alasan untuk Jokowi menjadi Capres di pilpres 2014 dan meninggalkan Jakarta.

Meski demikian, ada satu sisi positif dari hal tersebut: merasakan kegilaan Ahok menjadi Gubernur DKI Jakarta. Sejujurnya, seumur hidup, politikus Indonesia yang paling saya nikmati sepak terjangnya adalah Ahok. Saya tidak ngefans sama beliau, tapi sejujurnya, saya melihat diri saya sendiri dalam sosok Ahok. Ahok adalah orang yang tidak ragu menegur dengan keras orang yang salah. Tanpa tedeng aling-aling dia bakal bilang tai, bilang pencuri, dan lain-lain. Bagi saya, orang yang seperti ini ideal untuk jadi pemimpin di Indonesia. Tabiat orang Indonesia yang suka cengar-cengir atau sok sopan saat bikin salah memang harus digoblog-goblogi. Contoh sederhana, ketika seorang kernet bus meminta jalan dengan menunduk dan memberi jempol, padahal ia masuk dari lajur yang salah. Apa itu namanya itu kalau bukan goblog?

Selain itu, Ahok, dengan tangan besinya juga berhasil mengubah beberapa bagian Jakarta dari sesuatu yang kumuh dan tidak sedap dihidupi menjadi sesuatu yang enak dilihat seperti Tanah Abang misalnya. Sayangnya, perubahan itu dengan mudahnya mendapatkan ctrl+z treatment dari gubernur selanjutnya. Sejujurnya, bagi saya, butuh watak keras seperti Ahok untuk memaksa mengubah tabiat orang-orang Indonesia. Meski ada 2 kekurangan fatal: Pertama, menimbulkan musuh yang berdendam kesumat, kedua, atas nama adat ketimuran yang entah apalah itu, akan sangat mudah menggoreng tingkah laku Ahok untuk mengubah opini masyarakat. Sayangnya, hal itu berhasil dieksploitasi oleh lawan Ahok dan ia pun jatuh dari kejayaannya.

Oke, balik lagi ke Jokowi. Kekecewaan saya selanjutnya dari Jokowi adalah ketika ia memilih Jusuf Kalla sebagai wakil presiden. Alasannya, Jusuf Kalla adalah bagian dari old guard sistem perpolitikan di Indonesia yang membuat Indonesia mandeg. JK adalah kader Golkar, sementara menurut saya, Indonesia butuh kebaruan. Sayangnya, kontestasi politik di Indonesia berkata lain. JK adalah pilihan yang aman apabila Jokowi ingin menang di pilpres 2014, apalagi lawannya adalah Prabowo dan Hatta Rajasa yang sudah melanglangbuana di perpolitikan Indonesia. Tentu bukan lawan yang mudah untuk dikalahkan dengan sumber daya yang terbatas. Hebatnya, akhirnya Jokowi berhasil mengalahkan Prabowo dan Hatta Rajasa. Satu hal yang patut disayangkan dalam pilpres ini adalah, dimulainya politik identitas yang blak-blakkan di Indonesia, yang entah sampai kapan akan berkobar.

Presiden RI dan Janji Yang Tak Ditepati

Salah satu janji Jokowi yang saya ikuti adalah janji penyelesaian masalah HAM, terutama masalah PKI. Saya bukan simpatisan PKI atau Komunisme, bagi saya, itu adalah ideologi usang dan utopis yang tidak akan bisa diaplikasikan pada suatu entitas seluas dan sebesar negara. It’s a total bullcrap. Tapi bagi saya, apa yang terjadi pada simpatisan PKI di masa lampau, terutama orang-orang yang tidak terlibat secara langsung dengan partai, juga anak-anaknya yang terkena stigma, harus ada kejelasan sejarah di situ. Jokowi sempat berkelakar akan menuntaskan masalah ini, namun pada akhirnya ia tidak melakukan hal apa-apa.

Begitu pula dengan kasus lain seperti kerusuhan 1998. Kerusuhan bernuansa etnis ini meninggalkan banyak luka dan trauma di kalangan masyarakat terutama etnis Tionghoa di Indonesia. Namun kembali, kasus kerusuhan yang sistematis ini bak tidak pernah ada titik terang. Begitu pula kasus Munir. Polycarpus sudah keluar dari penjara, sementara otaknya (bukan otaknya Polycarpus ya) masih berkeliaran.

Membuka tabir masa lalu sejarah suatu negara tentu bukan sebuah kebijakan yang populer. Boleh lah kita bilang keluarga korban dan komunitas akademik akan sangat berterima kasih akan hal tersebut. Akan tetapi, apakah ratusan juta rakyat yang lain akan berpikir hal yang sama? Rasanya tidak.

Ini adalah kekecewaan ketiga saya terhadap Jokowi. Lama kelamaan, Jokowi menjadi “just another politician,” dengan segala janjinya. Banyak janji Jokowi yang belum atau tidak ditunaikan. Sebenarnya masih ada setitik harapan bahwa jika Jokowi menang di Pilpres 2019, maka Jokowi akan menuntaskan janji-janji besarnya di paruh kedua masa jabatannya sebagai presiden. Alasannya sederhana; tidak ada beban bagi Jokowi untuk terpilih lagi di 2024. Meski begitu, saya sangsi kalau itu akan terjadi. Politik Indonesia yang seperti benang pagujud adalah alasannya.

Pilpres 2019: The Righteous Game

Sore itu, saya menyaksikan televisi. Ada sebuah Breaking News: Jokowi sudah menetapkan cawapresnya. Breaking news mahapenting itu ditemani oleh berita selewat di mana Mahfud MD diisukan sudah menjahit baju putih yang senada dengan Jokowi. Bagi saya ini pertanda baik. Mahfud MD akan menjadi Cawapres Jokowi. Saya suka sosok Mahfud MD. Dalam situasi di mana politik identitas menjadi mainannya, Mahfud MD yang dikenal moderat akan memberi angin segar bagi kubu Jokowi sehingga mereka dapat menjauh dari pusaran Righteous Game (permainan ke-kanan-kanan-an, istilah yang saya buat sendiri untuk menyebut politisasi islam di Indonesia).

Sosok Mahfud MD pun sudah sejak jauh-jauh hari diisukan akan mendampingi Jokowi. Hal ini diperkuat dengan pernyataan orang-orang dekat Jokowi tentang Cawapres berinisial “M.” Ketika semuanya terlihat meyakinkan dan saya pun sudah memantapkan diri untuk memilih Jokowi di pilpres 2019, muncullah nama baru yang sama sekali tidak saya duga: KH Ma’aruf Amin. JRENG JREEENGGG.

Seketika saya bengong tidak percaya. The hell man? Ini kan orang yang menjebloskan Ahok ke penjara? Orang yang fatwanya membuat ada demo demo nggak penting bikin ribut satu negar? Kenapa dia? Inilah puncak kekecewaan saya pada Jokowi. Dari situ saya sudah tahu, Jokowi akan memainkan politik identitas untuk menyerang balik kubu Prabowo. Wajar? Sangat wajar. Makadari itu saya tidak setuju. Saya juga salah sih. Saya masih saja mencoba percaya kalau Jokowi ini progresif. Ternyata tidak. Pada akhirnya pun ia tetap mendekatkan diri pada orang-orang lama di perpolitikan Indonesia. Basi.

Konon hal ini terjadi akibat beberapa partai koalisi yang mengancam hengkang apabila KHMA tidak menjadi cawapres Jokowi. Mereka akan membentuk poros ketiga yang akan memperburuk keadaan untuk Jokowi. Benar atau tidaknya saya tidak tahu.

Setelah memilih KHMA menjadi cawapresnya, ternyata kubu Jokowi malah terbukti berbalik memainkan politik identitas. Bagi saya, politik identitas memang bisa saja menjadi senjata ampuh untuk merengkuh suara. Tapi itu cara sampah. Sisa-sisa dari politik identitas tidak akan dapat dibersihkan begitu saja. Politik identitas ini menebar benih “Kami dan Kalian” sesuatu yang goblog apabila dipraktikkan ke masyarakat Indonesia yang heterogen. Kelak, benih ini akan tumbuh menjadi bunga-bunga perbedaan yang baunya lebih busuk daripada bau bangkai. Bayangkan, baru bertunaspun baunya sudah menyengat bagai mayat yang membusuk di ruang hangat.

Jadi Pilih Siapa?

Sedihnya, dengan segala kekecewaan saya kepada Jokowi pun saya tidak sampai hati untuk memilih Prabowo. Meski sangsi dengan Jokowi, setidaknya saya masih menaruh setitik harapan. Siapa tahu Jokowi bisa masuk ke mode overdrive dan membawa perubahan yang progresif di Indonesia. Sementara Prabowo adalah kartu mati bagi saya. Tidak ada alasan untuk memilih dia. Melihat dari apa yang ia sampaikan ketika debat saja dapat diketahui bahwa Prabowo adalah seorang realis sejati. Saya ragu kalau negara seperti Indonesia dapat dibawa dengan pandangan realis ke kancah politik global. Dengan hal ini pun saya sudah tidak cocok. Apalagi apabila ditambah dengan track record masa lalunya. Dalam debat terakhir, hampir semua argumennya dapat dipatahkan dengan suatu kalimat yang walaupun ad hominem, tapi akan menjadi skakmat untuk dirinya; “Bukannya mantan mertua elu ya yang mulai?”

Dari paragraf di atas, sudah ketahuan ya pilihan saya. Pada akhirnya, Pilpres 2019 ini benar-benar menyebalkan. Memilih pun karena terpaksa. Yah, mungkin suatu hari kita akan dihadapkan pada pilihan calon pemimpin yang kita pilih karena memang kita ingin, karena kita merasa ia pantas memimpin kita. Kapankah suatu hari itu akan datang? Entahlah. Mungkin 2024, mungkin setelah kiamat. Tidak ada yang tahu.

 

Advertisements

Dialogue (2)

Man: hhhh.. *smile*

Friend: Did the boss said anything when he summoned you to his room?

Man: Yes. And thanks to that, I have a good news and a bad news.

Friend: Whoa… you’re okay?

Man: Yeah. Which news you want to hear first?

Friend: Well… the bad news…? I guess..

Man: Okay. Boss said that I’ll get fired in two weeks.

Friend: Oh no… I’m sorry to hear that

Man: The good news is, I have a stadium 4 lung cancer.

Friend:….

Dialog. (1)

A: rugi dong lo kalau ga percaya Tuhan, tapi nggak minum alkohol, nggak makan babi, nggak ewita sana sini.

B: nggak juga sih. Kalau ternyata Tuhan bener ada, paling nggak aing lebih sebentar di nerakanya daripada maneh.

Sepedaku

Sepeda ini adalah hadiah kelulusan. Sepeda yang nyaman dengan segala kemeriahannya. Bersadel kuning, berkayuh merah, dengan kemudi hitam berhias pita berwarna-warni. Berbadan biru, dengan ban abu-abu serta hitam. Ada lampu berwarna oranye sebagai pertanda berhenti.

Aku suka sekali sepeda ini. Tiap hari kurawat dan kupakai berkeliling kompleks. Mengayuhnya membuatku melupakan segala masalahku. Tak peduli apa orang bilang.

Tapi suatu hari, aku tak sengaja melindas batu besar. Aku terjatuh. Ban depannya penyok. Kayuhnya patah. Sepedaku rusak. Tak bisa diperbaiki. Aku sedih.

Aku coba perbaiki, tapi tidak bisa. Mungkin aku memang kurang handal. Aku tak mau mengganti ban depanku. Aku tak mau mengganti kayuh yang patah. Mungkin aku keras kepala. Tapi apalah artinya sepedaku kalau kayuhnya tidak merah dan bannya tidak hitam?

Aku simpan sepedaku di garasi. Mungkin suatu saat bisa aku perbaiki dan kendarai.

Setahun berlalu, sepeda itu masih tetap di garasi. Teronggok tidak bergerak. Mungkin itulah nasibnya. Sepedaku tak lagi bisa berlari.

Selamat tinggal sepeda. Terima kasih sudah menjadi sahabat yang baik selama beberapa tahun.

Rubuh

Aku tidak pernah membahas ini dengan orang lain. Hanya dengan mereka yang terkait. Terlalu sakit untuk dibicarakan. Tapi sekarang sakitnya sudah berangsur hilang. Entah aku yang kebas atau bagian yang luka sudah teramputasi. Sepertinya yang kedua.

Persahabatan adalah sebuah hal yang menakjubkan. Ada rasa senang, nyaman, dan aman di sana. Persahabatan adalah hal yang penuh tawa, air mata bahagia pun sedih, juga celotehan nakal.

Persahabatan bagiku, bagai menara Jenga. Disusun sampai tinggi, terlihat solid namun sebenarnya rapuh. Ketika terlihat makin tinggi, maka ia semakin rapuh. Karena tanpa sadar, kau ambil fondasinya untuk meninggikan menaranya.

Mungkin itu salahku? Terlalu banyak fondasi yang berubah, sehingga lupa kalau ia rapuh. Pada akhirnya ia pun rubuh.

Setelah rubuh, ia tidak bisa berdiri lagi.

Piring yang pecah ketika disatukan tetap terlihat retak. Aku tidak mau. Apalah artinya persahabatan dengan senyum yang dipaksakan, jabat tangan yang tidak tulus, dengan hati yang luka?.

Baiknya, kita sudahi saja. Yang baik dan pernah terjadi, simpan dalam hati. Yang buruk, jangan dilupakan.

🧑🧑🧑🧑👩🏻👩🏻👩🏻

🚲

Jakarta…

Beberapa hari yang lalu, aku melewati tempatku bekerja dulu di Jakarta. Langsung aku teringat masa-masa di mana aku bergaul dengan Jakarta yang selalu bermuram durja. Tak ada hari tanpa omong kosong tentang Tuhan. Memaksa menyembah-Nya, sekaligus melakukan apa yang Ia larang. Memuja-Nya, pun menyekutukannya. Entah itu uang, entah itu manusia. Selalu ada cara untuk melupakan-Nya walaupun hanya terlihat sesaat.

Jakarta yang bermuram durja. Tak ada hari tanpa berlama-lama di jalan, mengumpat, mengomentari gobloknya manusia-manusia di belakang laju banteng-banteng bermesin. Banteng gendut, banteng kerempeng, ada yang butut, ada yang mentereng. Semua goblok. Tidak sabar. Tidak mau kalah. “Aku bayar upeti untuk jalan ini! Diam kau bangsat!” begitulah kiranya jeritan banteng-banteng mesin yang saling bersahutan.

Jakarta yang bermuram durja. Di antara simpul-simpul kemacetan, kerap ada pekikan penuh iba dari mobil putih beraksen merah. Tertulis ecnalubma di kaca depannya. Di tengah waktu yang berhenti, ada raungan sirine yang diiringi jeritan mereka yang sedang berdoa. Jangan ambil kesayangan kami! Oh tolong jangan ambil! Tolong segera singkirkan bedebah-bedebah tuli ini dari hadapan kami! Biarkan kami menyelamatkan kesayangan kami!

Jakarta yang bermuram durja. Konon, hujan adalah berkah. Bahkan Tuhan memiliki petugas khusus untuk menurunkan air dari langit sebagai berkah untuk manusia. Tapi tidak bagi Jakarta. Sisa-sisa kehidupan membunuh jalan keberkahan. Bagi Jakarta, hujan adalah tangis. Tangis yang kelak menenggelamkan sebagian darinya untuk beberapa saat. Menghilangkan napasnya, menghentikan geraknya, membunuh penghuninya.

Jakarta yang bermuram durja. Sampai kapan kamu begini? Mungkin ketika manusiamu berhenti menyekutukan-Nya. Mungkin ketika manusiamu tak lagi mengumpat. Mungkin ketika manusiamu tak lagi tuli. Mungkin juga ketika manusiamu paham akan keberkahan. Sebuah tanda tanya dengan beribu mungkin. Untuk sekarang, bermuram durja sajalah dulu.

Sekilas Tentang Studi Jepang, Filsafat Ilmu, dan Pendekatan Interdisipliner

Studi Jepang dan Pentingnya Filsafat Ilmu Pengetahuan

Beberapa minggu yang lalu, saya tertegun dengan sebuah pemandangan menarik di kios majalah di stasiun kereta Bandung. Ada sebuah majalah favorit saya, National Geographic terpampang di sana. Tidak biasanya saya tertarik untuk membeli National Geographic di kios majalah stasiun. Alasannya sederhana; karena saya kurang suka membaca majalah (apapun) yang ditranslasi ke Bahasa Indonesia. Bukannya merendahkan kualitas translator Indonesia, tetapi tentunya membaca versi asli sebuah teks akan lebih menyenangkan, terlebih ketika kita mengerti bahasa dari versi asli teks tersebut. Yang membuat saya tertegun kepada majalah itu adalah sampul depannya yang dengan gamblang menampilkan judul “MEMBANTAH SAINS,” dengan gambar sebuah studio set yang menggambarkan adegan mendarat di bulan oleh para kru Apollo 11. Yang membuat saya tertarik bukanlah tentang pendaratan bulan itu sendiri –saya sudah kenyang membaca tentang itu, bukan juga tentang pendaratan bulan yang dibilang palsu, tetapi bagaimana tentang pendaratan di bulan yang dikatakan sebagai MEMBANTAH SAINS.

Memang banyak yang meragukan legitimasi pendaratan Apollo 11 di bulan. Termasuk saya, pada awalnya. Tetapi, setelah saya coba elaborasikan dengan data-data yang berserakan di internet, yah, sepertinya cukup bisa dipercaya lah. Seandainya salah, itu urusan mereka yang menebar data dengan Tuhan, saya yang menginterpretasi hanya bisa duduk manis sebagai korban. Ok, cukup tentang pendaratan di bulan. Mari kita coba bahas tentang bantahan lainnya tentang sains.

Saya adalah penggemar situs imgur.com, sebuah situs yang di dalamnya terdapat berbagai macam gambar lucu nan cerdas, yang seringkali memberikan info kekinian tentang apa-apa yang terjadi di dunia barat. Saya juga penggemar facebook.com, tempat kita berbagi informasi, menyombongkan barang, mengomentari segala macam –dari pertandingan sepak bola, hingga tahi lalat adik bayi teman anda, tempat bertengkar juga, tempat mencari hiburan melihat orang bertengkar, dan tentunya wahana untuk saling berdebat. Ada satu kesamaan tema yang seringkali muncul berbarengan di imgur dan facebook. Mungkin pengguna imgur adalah pengguna facebook juga, walaupun saya ragu, karena pandangan di ranah keduanya sangat lah berbeda –imgur diisi oleh orang-orang yang tidak kita kenal, sebaliknya dengan facebook, kecuali anda asal accept friend. Meski demikian, temanya seringkali sama, salah satu yang menarik perhatian saya adalah tentang vaksinasi anak. Banyak yang bilang di facebook bahwa vaksinasi membuat anak menjadi autis. Dengan infografis yang mencenangkan ! Infografis yang dihina habis-habisan oleh imgurian. Berbeda bukan ? facebookers menentang vaksinasi, sedangkan imgurian mendukungnya.

Kalau mau melihat di dunia imgur, mereka-mereka biasanya menentang para kaum kolot yang mudah terpengaruh dengan info-info yang berseliweran di internet. Di Indonesia, di dunia perfacebookan, biasanya info-info seperti ini mereka sebar lewat facebook setelah mereka terima dari broadcast BBM (Blackberry Messenger). Namun yang akan saya bahas bukanlah metode penyebarannya, tetapi bagaimana mereka menyikapi info tersebut. Orang yang kolot biasanya langsung menerima begitu saja, menerima alasan yang terdengar logis –tanpa kroscek terlebih dahulu. Bagi mereka, tulisan yang tidak jelas juntrungannya seperti:

vaksin cacar mampu mengakibatkan autisme karena di dalamnya terkandung bahan-bahan yang menyebabkan autisme. Tertanda, Dokter Robert, spesialis anak.”

Lebih mampu mereka percaya daripada jurnal-jurnal ilmiah yang mentereng seperti Bulletin WHO atau Milbank Quarterly, dan sejenisnya. Yah, walaupun kita juga tidak boleh melupakan kasus vaksin Rubella yang dituduh menyebabkan autisme oleh Andrew Wakefield yang ternyata bukan penelitian valid namun sempat dipublikasikan oleh the Lancet, salah satu jurnal ilmiah paling tua dan kredibel di dunia. Tentunya kita juga harus melakukan perbandingan dan lain-lain. Namun, bagi saya pribadi, ketika pemerintah sudah mengesahkan sebuah vaksin, maka vaksin itu sudah cukup kredibel, walaupun wajar sekali apabila kita ragu dengan yang namanya pemerintah. Sama halnya dengan vaksin meningitis yang konon mengandung enzim babi. Mungkin saya terdengar lancang, tapi apabila vaksin itu efektif, mengapa tidak ? Toh konon tidak semua mengandung babi, dan yaaahhh, jikalau iya, Tuhan Maha Tahu dosanya ditanggung siapa.

Lalu apa hubungannya pendaratan di bulan yang dibilang palsu, dan vaksin yang dibilang menyebabkan autisme ? Keduanya dibilang menentang sains. Dan keduanya menjadi contoh dalam artikel National Geographic tersebut. Selain itu, ada juga teori-teori lain seperti bumi yang datar oleh Orlando Ferguson (ada petanya), juga teori bahwa global warming tidaklah sedang terjadi. Bagi saya, bumi itu bulat. Bisa dibuktikan dengan Foucault’s Pendulum. Metodologinya masuk akal, dan pembuktiannya bisa kita lihat sendiri di Pantheon, Paris. Kalau Foucault hidup sejaman dengan Galileo Galilei, saya yakin nasibnya akan sama. Mungkin mereka akan dibakar bersebelahan. Bagaikan pasangan sesama jenis yang berselingkuh, lalu berzinah di depan umum. Bagaimana dengan global warming ? Ini saya masih kurang baca, tapi ya memang, bumi makin panas. Apapun alasannya, entah itu karena polusi, atau karena siklus bumi sendiri, atau keduanya, yang pasti, ibu saya pernah bercerita tentang bagaimana terumbu karang yang sekarang mudah rusak karena ia larut dalam air laut yang makin menghangat. Ada juga teori populer di mana es di Antartika kerap menyusut dari waktu ke waktu.

Bumi datar menjadi bumi bulat, bumi yang biasa-biasa saja menjadi bumi yang panas. Fakta-fakta ini baru diketahui kemudian, melampaui fakta yang diketahui sebelumnya. Dalam Filsafat Ilmu Pengetahuan, fase ini disebut dengan perubahan paradigma. Perubahan cara pandang ilmiah terhadap sesuatu. Perubahan paradigma ini menjadi suatu hal yang penting dalam ilmu pengetahuan, terutama dalam ilmu pengetahuan sosial. Karena dengan perubahan cara pandang inilah ilmu baru dapat ditemukan. Dengan gajah dan orang buta sebagai pembanding, perubahan paradigma bagaikan menambahkan seorang lagi orang buta untuk meraba si gajah. Apabila sebelumnya yang terraba adalah kuping yang lembek dan gading yang keras, si orang buta baru bisa saja beraba pantat gajah yang besar. Sehingga konsep terhadap gajah makin lengkap, dan makin mendekati konsep gajah secara utuh.

Apa yang ada di masyarakat dapat dieksplorasi dengan penemuan-penemuan baru. Penemuan ini bisa muncul dari perubahan paradigma tadi. Dengan perubahan paradigma, maka hal baru bisa diteliti dan menjadi suatu karya saintifik. Ketika sudah menjadi karya saintifik, ia tak berarti tak terbantahkan, ia tetap terbantahkan ketika ada fakta baru yang muncul. Fakta baru. Inilah yang coba saya garis bawahi di sini. Tentang fakta baru yang dapat merubah kesatuan ilmu yang dulunya sudah berdiri ajeg di tempat. Kaku, tak bergerak. Bagai kakek tua yang sudah malas bergerak karena sendi-sendinya sudah berkarat. Bagi saya, kutipan berikut yang akan saya kutip bisa jadi pelumas dan ambrosia buat si kakek, karena kutipan di bawah inilah saya menulis tulisan ini, dikaitkan dengan Studi Jepang di (Universitas) Indonesia.

Justru karena mereka (ilmuwan) netral, sains menjadi begitu ampuh. Karena sains menyatakan kebenaran sesungguhnya, bukan kebenaran yang kita inginkan. Ilmuwan memang bisa dogmatis seperti orang lain –tetapi mereka mau melepaskan dogma jika ada penelitian baru. Dalam sains, kita tidak berdosa jika berubah pikiran saat dituntut oleh bukti. Bagi sebagian orang, suku lebih penting daripada kebenaran; bagi ilmuwan terbaik, kebenaran lebih penting daripada suku.[1]

 

 

 

Tentang Studi Jepang, Filsafat Ilmu, dan Interdisipliner

Sebelum lebih jauh lagi dalam membahas tentang Studi Jepang dan Filsafat Ilmu, akan dipaparkan terlebih dahulu tentang apa itu Studi Jepang, karena jika tidak mengejawantahkan konsep per-konsep, dikhawatirkan ada kesalahpahaman dalam mencoba mengerti tulisan ini.

Studi Jepang adalah bagian dari studi kawasan yang berfokus kepada kawasan Jepang. Studi kawasan sendiri adalah bidang studi interdisipliner yang mempelajari suatu kawasan geografis, nasional atau federal, dan kultural. Biasanya, studi ini melibatkan: sejarah, ilmu politik, sosiologi, studi-studi budaya, bahasa, geografi, kesusastraan, dan berbagai disiplin ilmu yang berkaitan. Selain itu, studi kawasan juga seringkali membahas diaspora dan emigrasi dari kawasan yang berkaitan.

Jepang sendiri adalah sebuah negara kepulauan yang terletak di kawasan Asia Timur. Mendefinisikan sebuah negara tidaklah sulit, karena ia bisa dikuantifikasikan. Misal, dengan titik koordinatnya, batas geografis, atau dengan mengacu kepada syarat negara secara tradisional yang diambil dari konvensi Montivideo serta turunan-turunannya: Wilayah, Rakyat, Pemerintah, dan Kedaulatan (pengakuan dari negara lain).

Dalam studi Jepang, yang dipelajari adalah sejarah Jepang, perpolitikan Jepang baik dalam maupun luar negeri, kemasyarakatan Jepang, studi-studi budaya Jepang, Bahasa Jepang, geografi Jepang, kesusastraan Jepang, dan berbagai disiplin ilmu lainnya seperti ekonomi. Karena bersifat studi interdisipliner –sebuah pakem ilmu yang melihat suatu masalah dari berbagai macam sudut pandang keilmuan. Contoh bagaimana studi interdisipliner bekerja dalam studi Jepang adalah dengan meneliti permasalahan ekonomi Jepang. Untuk memahami bubble era misalnya. Tidak hanya dibutuhkan ilmu ekonomi untuk menjelaskannya, tetapi juga ilmu tentang kebudayaan yang mengakibatkan bubble terjadi di Jepang, tetapi tidak di negara lain. Salah satu penyebabnya adalah Keiretsu, sebuah sistem dalam perusahaan Jepang di mana perusahaan besar di Jepang memiliki saham anak perusahaannya dalam sebuah satuan yang saling mengikat. Keiretsu sendiri apabila ditilik dari sejarahnya, memiliki pengaruh dari pendudukan Amerika Serikat, yang berarti ada pengaruh dari bidang ilmu politik Jepang.  Dengan kata lain, untuk menjelaskan suatu fenomena ekonomi, dibutuhkan tidak hanya ilmu ekonomi, tetapi juga ilmu politik (dan sejarah).

Dalam perjalanan Studi Jepang yang selama ini saya tempuh, yang paling sering beririsan dengan fenomena-fenomena yang terjadi di Jepang adalah tentang kebudayaan. Tentu saja. Salah satu yang membuat manusia menjadi manusia adalah kebudayaan. Apa itu kebudayaan ? Apabila mengacu kepada definisi lama yang melegenda dari Bapak Selo Soemardjan: Kebudayaan adalah semua hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. Saya yakin definisi ini telah muncul berulang kali di berbagai macam kesempatan. Namun, definisi yang seperti ini cenderung hanya membahas bentuk material dari budaya itu saja, seperti guci, sendok, dan garpu misalnya. Definisi ini tidak mencakup cara hidup orang dari kebudayaan tertentu. Jikalau demikian, definisi kebudayaan ini tidak akan efektif apabila diaplikasikan dalam Studi Jepang, yang membutuhkan dinamisme yang luar biasa dari setiap irisan studi interdisiplinernya. Karena itulah saya mencoba mengambil definisi kebudayaan dari Clifford Geertz yang ditambah dengan kritik dari Bapak Bachtiar Alam, salah seorang dosen Studi Jepang di Universitas Indonesia.

 

Kebudayaan didefinisikan oleh Clifford Geertz (Geertz, dalam Alam 2014: 35-41) sebagai :“an historically transmitted pattern of meanings embodied in symbols…by means of which men communicate, perpetuate, and develop their knowledge about and attitude toward life”. Namun, bagi Bachtiar Alam (2014: 35-41), kebudayaan adalah sesuatu yang bersifat dinamis, ia bisa berubah, apa lagi berkaitan dengan ‘subjek pendukung kebudayaan’ yang dapat mengambil bagian dalam proses konstruksi kebudayaan, yang pada gilirannya berkaitan erat dengan kekuasaan serta kepentingan.

 

Cetak tebal di atas bukan kesalahan, tapi disengaja. Karena 3 kata dan 1 frasa itu sangatlah penting, dan inilah yang seringkali tidak dihiraukan oleh penstudi Jepang lainnya. Esensialisme, itulah kata kunci yang dikedepankan oleh Bapak Bachtiar Alam. Kembali mengutip bukunya:

Colson dalam Vayda (1994:322) dalam Alam (2014: 40):

Essentialism is a reductionist view of culture as the immutable values that are fundamental for guiding the way particular people deal with each other and with their environment. An essentialist view holds that these values are not situational or time-linked, but constant and permanent, therefore they can be treated as eternal principles to predict particular people’s behavior over time and under all circumstances.”

Kurang lebih bisa saya ringkas sebagai berikut: esensialisme menganggap bahwa budaya adalah sesuatu yang statis dan tidak akan pernah berubah seiring zaman. Orang Jepang akan tetap menjadi orang Jepang yang wabi-sabi, bushi, tertib, dan lain-lain. Ini seringkali wajib dikaitkan dengan aspek-aspek Jepang di masa modern, karena hal-hal yang disebutkan tadi adalah bagian dari kebudayaan Jepang. Mereka tidak akan berubah walaupun kelak Orang Jepang sudah hidup di luar angkasa, karena bagi para esensialis, hal-hal tersebut adalah sesuatu yang terus diturunkan kepada keturunan orang Jepang tanpa ada gangguan dari pihak lainnya.

Benarkah demikian ? Bagi saya tidak. Tidak ada kebudayaan yang abadi, karena ia tidak bersifat natural. Kebudayaan bukanlah bawaan lahir. Ini bisa diargumentasikan secara ilmiah. Ambil contoh Genie, seorang Feral Child (anak liar) yang sejak lahir hingga berumur 13 tahun hidup dalam isolasi. Genie adalah seorang Amerika. Tetapi ia tidak bisa berbicara dalam Bahasa Inggris yang merupakan kebudayaan Amerika, tidak bisa makan dengan pisau dan garpu yang merupakan kebudayaan Amerika, dan lain-lain. Ya, Genie tidak mendapatkan transmitted pattern of meaning –dari definisi Geertz, oleh orang tuanya. Ah, tapi mungkin contoh ini tidak adil, karena Genie memang terputus dari lingkungannya. Mungkin akan saya coba contoh lain.

Orang Jepang tertib dengan waktu misalnya. Orang Jepang bisa tepat waktu bukan karena mereka terlahir sebagai orang Jepang. Tetapi, ini adalah bagian dari program pemerintah Jepang di masa pasca Perang Dunia II. Ini semua dapat dilihat di dalam buku Sheldon Garron yang berjudul Molding Japanese Minds. Dalam buku itu dijelaskan, Jepang bisa menjadi “bangsa yang tepat waktu” adalah karena kampanye oleh pemerintah Jepang di masa itu. Berarti, sebelumnya tidak ada kebudayaan yang berbunyi bahwa orang Jepang adalah orang yang tepat waktu. Ini berarti kebudayaan berubah. Berubah karena dipaksa oleh kuasa. Ini kembali ke definisi dari Bapak Bachtiar Alam yang saya tebalkan tadi. Berkaitan erat dengan kekuasaan –pemerintah Jepang di masa itu, dan kepentingan –membuat rakyat Jepang menjadi lebih produktif dan membantu pendapatan Jepang yang baru kalah perang. Ia berubah, sesuai dengan subjek pendukung kebudayaannya –negara.

Lalu, apa hubungannya semua ini dengan filsafat ilmu ?

Begini. Para esensialis percaya bahwa budaya itu tidak berubah –menurut saya sih, saya belum menemukan literatur yang secara gamblang membahas ini, karena bagi mereka itu adalah kebenaran yang mereka terima melalui ilmu pengetahuan. Ketika mereka menganggap itu sebagai ilmu pengetahuan, maka itu adalah sebuah kebenaran. Dan kebenaran tidak akan berubah. Bagi saya, itu adalah suatu kesalahan dalam memandang ilmu. Memang untuk mendapatkan “orang Jepang tepat waktu” dibutuhkan juga penelitian. Mungkin survey dan statistik, dan lain-lain. Mungkin itu benar secara ilmiah tapi, kebenaranilmiah pun tidak akan menjadi selamanya benar, apalagi dalam ilmu sosial. Ada kondisi di mana mereka bisa –dan akan berubah.

Bagi Marcia McNutt, seorang ahli geofisika dan editor Science, sebuah jurnal bergengsi, “ilmu pengetahuan bukanlah sekumpulan fakta. Ilmu pengetahuan adalah metode untuk menentukan apakah hal yang kita yakini sesuai dengan hukum alam atau tidak.” Kata kuncinya adalah ‘bukalah sekumpulan fakta’[2]. Ya, ilmu pengetahuan bukanlah kebenaran. Tetapi ia adalah semacam lensa yang memperjelas kebenaran. Karena kebenaran yang hakiki hanyalah Tuhan yang tahu –bagi mereka yang percaya, dan kebenaran yang hakiki belum bisa ditemukan hingga sekarang –bagi mereka yang tidak percaya dengan Tuhan. Mungkin kutipan tadi akan lebih cocok apabila diaplikasikan ke ilmu alam, namun, ‘bukanlah sekumpulan fakta’ inilah yang membuat kita tidak boleh menjadi sombong dengan apa yang tadinya kita sudah dan selalu percayai.

Mengutip kembali dari majalah National Geographic tadi, “Dalam sains, kita tidak berdosa jika berubah pikiran saat dituntut oleh bukti.” Bagi saya, justru kita berdosa jika TIDAK berubah pikiran saat dituntut oleh bukti. Kekeraskepalaan terhadap ilmu yang sudah ada adalah dosa bagi seorang ilmuwan. Karena apabila ilmu dianggap statis, maka ia tidak akan berkembang. Pemikiran seperti ini bisa didapat dari Filsafat Ilmu. Karena dalam filsafat ilmu, kita dapat belajar tentang struktur ilmu pengetahuan sendiri. Kelebihannya, maupun kekurangannya.

Dalam buku Jujun Sudharminta, sebuah pengantar filsafat ilmu –sebuah buku legendaris, salah satu sifat yang dibutuhkan oleh ilmuwan adalah skeptisisme. Ironisnya, skeptisisme adalah sesuatu yang saya gembar-gemborkan sejak awal. Sesuatu yang saya anggap buruk. Tapi tunggu dulu, skeptisisme di sini berbeda. Skeptisisme ilmu pengetahuan apabila dilihat secara negatif, maka ia akan menolak segala macam bukti dan fakta baru apabila bukti dan fakta itu bertentangan dengan apa yang ia anggap benar selama ini. Sedangkan apabila dilihat dari segi keilmuan secara positif, skeptisisme adalah sebuah kehati-hatian dalam menerima kebaruan. Kebaruan itu penting tentu saja, namun sebagai ilmuwan yang baik, kita tidak boleh menelan kebaruan itu secara mentah-mentah. Setidaknya, apabila tidak bisa memasaknya, kunyahlah dulu kebaruan itu, karena apabila ditelan secara mentah-mentah, maka kebaruan itu bisa saja salah, bahkan menyesatkan, seperti vaksin yang menyebabkan autisme oleh Andrew Wakefield. Malah terkadang, sebelum menerima kebaruan, ada baiknya apabila kita melihat dari sisi lainnya terlebih dahulu.

Sebelum memberikan simpulan, izinkan saya mengutip dan sedikit membahas pemikiran dua orang filsuf modern yang banyak berbicara tentang ilmu pengetahuan dan kebudayaan: Michel Foucault dan Noam Chomsky.

Dimulai dari Foucault yang berujar “Man is an invention of recent date.” Bagi Foucault, manusia memperlakukan ide ‘manusia’ sebagai sesuatu yang natural dan abadi, namun arkeologi pemikiran kita menunjukkan bahwa manusia sendiri baru muncul sebagai sebuah objek studi di awal abad ke-19 (melalui filsafat), dengan kata lain, manusia adalah penemuan yang bisa dibilang baru. Foucault sendiri tertarik dengan bagaimana diskursus –cara kita berbicara dan berpikir tentang banyak hal, terbentuk oleh aturan yang tanpa disadari muncul dari kondisi historis di mana kita berada. Kita membicarakan hal yang kita anggap sebagai ‘akal sehat’ tanpa sadar bahwa ‘akal sehat’ ini terbentuk oleh aturan yang tidak kita sadari dan kondisi historis tadi. Aturan dan kondisi ini berubah seiring zaman, oleh karena itu, bagi Foucault arkeologi pemikiran sangatlah penting. Tentang bagaimana pemikiran berubah dari waktu ke waktu, dan bagaimana kita tidak bisa menganggap konsep dalam konteks masa sekarang sebagai sesuatu yang abadi. Kita membutuhkan genalogi sejarah terhadap konsep-konsep tadi[3].

Genealogi sejarah terhadap konsep. Ini adalah suatu hal yang cukup penting yang nampaknya akan sangat menarik apabila diajarkan di Studi Jepang. Apabila kembali ke contoh ‘orang Jepang tepat waktu’ tadi, maka genealoginya bisa diambil dari awal ketika Jepang kalah perang, dan pemerintahnya mulai menggalakan hidup teratur. Tentang bagaimana pemerintah mempromosikan ide tersebut sehingga ide itu tertanam di benak orang-orang Jepang. Tidak berhenti sampai di situ, bagaimana pemerintah dan orang-orang Jepang kemudian terus memelihara ide itu, dan menjadi sesuatu yang –mengambil konsep Roland Barthes, dimitoskan, lalu kemudian dijadikan sebagai sesuatu yang khas dan natural dari orang Jepang (walaupun sebenarnya tidak, namanya juga mitos). Dengan genealogi ini, kita dapat lebih memahami, apa yang sebenarnya menjadi struktur dari kebudayaan orang-orang Jepang itu sendiri. Bagi saya, seorang penstudi Jepang sejati bukan hanya harus mengerti apa yang menjadi ‘akal sehat’ bagi orang Jepang, tetapi juga harus mengerti MENGAPA dan BAGAIMANA hal itu menjadi ‘akal sehat’ bagi orang Jepang.

Yang kedua adalah Noam Chomsky, dengan kutipan “if we choose, we can live in a world of comforting illusion.” Kutipan ini memang ditujukan untuk negara, namun, apabila kita cukup cermat untuk ‘menarik’-nya ke dunia konsep, maka ia bisa digunakan ke apapun yang bersifat otoritarian. Maksudnya, punya kuasa. Dalam menjelaskan kutipan tadi, kurang lebih seperti ini; apabila kita berasumsi bahwa pemerintah/negara/otoritas yang mengekang kita secara natural lebih etis daripada pemerintah/negara/otoritas lainnya, maka kita memilih untuk hidup di dunia ilusi yang nyaman. Untuk menghancurkan ilusi itu, kita harus mencari bukti tentang apa yang sebenarnya dilakukan oleh pemerintah/negara/otoritas kita, dan mengaplikasikan prinsip etis yang kita gunakan ke negara lain, ke negara kita sendiri[4].

Dengan kata lain, apa yang kita lihat, kita rasa, kita anggap benar selama ini, belum tentu benar adanya. Ada kekuasaan di sana yang memaksa kita untuk melihat, merasa, menganggap sesuatu sebagai sesuatu yang benar adanya dan tidak bisa dipersalahkan. Untuk membongkar asumsi itu, maka kita harus melihat secara objektif dan menyeluruh tentang apa yang sebenarnya pemilik kuasa itu lakukan. Dalam dunia keilmuan, ini bisa diaplikasikan –mungkin, kurang lebih, kepada cabang ilmu kita sendiri. Seringkali kita menganggap cabang ilmu kita adalah yang paling benar –bahkan dalam studi interdisipliner. Ini wajar, sama seperti negara, cabang ilmu kita adalah tempat di mana kita ditumbuhkembangkan. Bagaimana kita diberitahu –dengan metode yang mantap, apa yang benar, dan apa yang tidak benar atau belum benar. Namun, kita sendiri terkadang lupa. Lupa dengan skeptisisme ilmiah yang positif tadi. Bagaimana dengan teori gajah juga. Apakah kita mau menjadi seorang bebal yang tidak mau melihat atau meraba gajah itu dengan cara lain ? Dari arah lain, dari sudut pandang lain ? Ya. Kenyataan tentang gajah bukanlah belalainya, bukan juga gadingnya, bukan juga ekornya, tetapi gajah sebagai sebuah kesatuan. Begitu juga dengan kebenaran. Ia tidak hanya bisa dilihat dari satu sisi saja. Bukankah itu makna hakiki dari studi interdisipliner ?

Walaupun tentunya dalam penelitian tesis atau disertasi akan ada batasan tentang apa yang mau diteliti, dan bagaimana cara menelitinya, tentunya akan sangat bijak apabila peneliti diberikan kebebasan –selama tidak keluar koridor keilmiahan yang dipegang oleh universitas, tidak ada yang mau menjadi Feyerabend di sini- dalam penelitiannya. Seorang pembimbing yang baik harus dapat menerima kebaruan, mendukung dari belakang, sedikit mengoreksi dan meluruskan, tanpa harus terlalu banyak ikut campur di dalam prosesnya. Mungkin, mungkin karena itulah di negara-negara berbahasa Inggris, pembimbing tesis atau disertasi disebut dengan adviser, pemberi saran.

Kebenaran tentang orang Jepang bukan hanya wabi dan sabi, bukan hanya bushido, ia lebih dari itu. Tidak sesempit itu. Kebenaran tentang orang Jepang berada mengakar di dalam sejarah, ilmu politik, sosiologi, studi-studi budaya, bahasa, geografi, kesusastraan, dan berbagai disiplin ilmu yang berkaitan, dan semuanya selalu berubah. Adalah tugas kita sebagai penstudi Jepang untuk meneliti dan memahaminya. Menghancurkan relung-relung ilusi yang menyelimuti sebuah konsep bernama Jepang. Menemukan kebenaran dibalik ‘kebenaran’.

 

 

[1] Joel Achenbach dalam National Geographic Indonesia edisi Maret 2015. Era Ketidakpercayaan. hal 45

[2] Ibid national geographic Indonesia hal 38

[3] DK, The Philosophy Book: Big Ideas Simply Explained. London: DK. 2010. Hal 302

[4] Ibid hal 304