h1

Sepedaku

November 27, 2018

Sepeda ini adalah hadiah kelulusan. Sepeda yang nyaman dengan segala kemeriahannya. Bersadel kuning, berkayuh merah, dengan kemudi hitam berhias pita berwarna-warni. Berbadan biru, dengan ban abu-abu serta hitam. Ada lampu berwarna oranye sebagai pertanda berhenti.

Aku suka sekali sepeda ini. Tiap hari kurawat dan kupakai berkeliling kompleks. Mengayuhnya membuatku melupakan segala masalahku. Tak peduli apa orang bilang.

Tapi suatu hari, aku tak sengaja melindas batu besar. Aku terjatuh. Ban depannya penyok. Kayuhnya patah. Sepedaku rusak. Tak bisa diperbaiki. Aku sedih.

Aku coba perbaiki, tapi tidak bisa. Mungkin aku memang kurang handal. Aku tak mau mengganti ban depanku. Aku tak mau mengganti kayuh yang patah. Mungkin aku keras kepala. Tapi apalah artinya sepedaku kalau kayuhnya tidak merah dan bannya tidak hitam?

Aku simpan sepedaku di garasi. Mungkin suatu saat bisa aku perbaiki dan kendarai.

Setahun berlalu, sepeda itu masih tetap di garasi. Teronggok tidak bergerak. Mungkin itulah nasibnya. Sepedaku tak lagi bisa berlari.

Selamat tinggal sepeda. Terima kasih sudah menjadi sahabat yang baik selama beberapa tahun.

Advertisements
h1

Rubuh

November 27, 2018

Aku tidak pernah membahas ini dengan orang lain. Hanya dengan mereka yang terkait. Terlalu sakit untuk dibicarakan. Tapi sekarang sakitnya sudah berangsur hilang. Entah aku yang kebas atau bagian yang luka sudah teramputasi. Sepertinya yang kedua.

Persahabatan adalah sebuah hal yang menakjubkan. Ada rasa senang, nyaman, dan aman di sana. Persahabatan adalah hal yang penuh tawa, air mata bahagia pun sedih, juga celotehan nakal.

Persahabatan bagiku, bagai menara Jenga. Disusun sampai tinggi, terlihat solid namun sebenarnya rapuh. Ketika terlihat makin tinggi, maka ia semakin rapuh. Karena tanpa sadar, kau ambil fondasinya untuk meninggikan menaranya.

Mungkin itu salahku? Terlalu banyak fondasi yang berubah, sehingga lupa kalau ia rapuh. Pada akhirnya ia pun rubuh.

Setelah rubuh, ia tidak bisa berdiri lagi.

Piring yang pecah ketika disatukan tetap terlihat retak. Aku tidak mau. Apalah artinya persahabatan dengan senyum yang dipaksakan, jabat tangan yang tidak tulus, dengan hati yang luka?.

Baiknya, kita sudahi saja. Yang baik dan pernah terjadi, simpan dalam hati. Yang buruk, jangan dilupakan.

🧑🧑🧑🧑👩🏻👩🏻👩🏻

🚲

h1

Jakarta…

November 22, 2018

Beberapa hari yang lalu, aku melewati tempatku bekerja dulu di Jakarta. Langsung aku teringat masa-masa di mana aku bergaul dengan Jakarta yang selalu bermuram durja. Tak ada hari tanpa omong kosong tentang Tuhan. Memaksa menyembah-Nya, sekaligus melakukan apa yang Ia larang. Memuja-Nya, pun menyekutukannya. Entah itu uang, entah itu manusia. Selalu ada cara untuk melupakan-Nya walaupun hanya terlihat sesaat.

Jakarta yang bermuram durja. Tak ada hari tanpa berlama-lama di jalan, mengumpat, mengomentari gobloknya manusia-manusia di belakang laju banteng-banteng bermesin. Banteng gendut, banteng kerempeng, ada yang butut, ada yang mentereng. Semua goblok. Tidak sabar. Tidak mau kalah. “Aku bayar upeti untuk jalan ini! Diam kau bangsat!” begitulah kiranya jeritan banteng-banteng mesin yang saling bersahutan.

Jakarta yang bermuram durja. Di antara simpul-simpul kemacetan, kerap ada pekikan penuh iba dari mobil putih beraksen merah. Tertulis ecnalubma di kaca depannya. Di tengah waktu yang berhenti, ada raungan sirine yang diiringi jeritan mereka yang sedang berdoa. Jangan ambil kesayangan kami! Oh tolong jangan ambil! Tolong segera singkirkan bedebah-bedebah tuli ini dari hadapan kami! Biarkan kami menyelamatkan kesayangan kami!

Jakarta yang bermuram durja. Konon, hujan adalah berkah. Bahkan Tuhan memiliki petugas khusus untuk menurunkan air dari langit sebagai berkah untuk manusia. Tapi tidak bagi Jakarta. Sisa-sisa kehidupan membunuh jalan keberkahan. Bagi Jakarta, hujan adalah tangis. Tangis yang kelak menenggelamkan sebagian darinya untuk beberapa saat. Menghilangkan napasnya, menghentikan geraknya, membunuh penghuninya.

Jakarta yang bermuram durja. Sampai kapan kamu begini? Mungkin ketika manusiamu berhenti menyekutukan-Nya. Mungkin ketika manusiamu tak lagi mengumpat. Mungkin ketika manusiamu tak lagi tuli. Mungkin juga ketika manusiamu paham akan keberkahan. Sebuah tanda tanya dengan beribu mungkin. Untuk sekarang, bermuram durja sajalah dulu.

h1

Sekilas Tentang Studi Jepang, Filsafat Ilmu, dan Pendekatan Interdisipliner

August 5, 2017

Studi Jepang dan Pentingnya Filsafat Ilmu Pengetahuan

Beberapa minggu yang lalu, saya tertegun dengan sebuah pemandangan menarik di kios majalah di stasiun kereta Bandung. Ada sebuah majalah favorit saya, National Geographic terpampang di sana. Tidak biasanya saya tertarik untuk membeli National Geographic di kios majalah stasiun. Alasannya sederhana; karena saya kurang suka membaca majalah (apapun) yang ditranslasi ke Bahasa Indonesia. Bukannya merendahkan kualitas translator Indonesia, tetapi tentunya membaca versi asli sebuah teks akan lebih menyenangkan, terlebih ketika kita mengerti bahasa dari versi asli teks tersebut. Yang membuat saya tertegun kepada majalah itu adalah sampul depannya yang dengan gamblang menampilkan judul “MEMBANTAH SAINS,” dengan gambar sebuah studio set yang menggambarkan adegan mendarat di bulan oleh para kru Apollo 11. Yang membuat saya tertarik bukanlah tentang pendaratan bulan itu sendiri –saya sudah kenyang membaca tentang itu, bukan juga tentang pendaratan bulan yang dibilang palsu, tetapi bagaimana tentang pendaratan di bulan yang dikatakan sebagai MEMBANTAH SAINS.

Memang banyak yang meragukan legitimasi pendaratan Apollo 11 di bulan. Termasuk saya, pada awalnya. Tetapi, setelah saya coba elaborasikan dengan data-data yang berserakan di internet, yah, sepertinya cukup bisa dipercaya lah. Seandainya salah, itu urusan mereka yang menebar data dengan Tuhan, saya yang menginterpretasi hanya bisa duduk manis sebagai korban. Ok, cukup tentang pendaratan di bulan. Mari kita coba bahas tentang bantahan lainnya tentang sains.

Saya adalah penggemar situs imgur.com, sebuah situs yang di dalamnya terdapat berbagai macam gambar lucu nan cerdas, yang seringkali memberikan info kekinian tentang apa-apa yang terjadi di dunia barat. Saya juga penggemar facebook.com, tempat kita berbagi informasi, menyombongkan barang, mengomentari segala macam –dari pertandingan sepak bola, hingga tahi lalat adik bayi teman anda, tempat bertengkar juga, tempat mencari hiburan melihat orang bertengkar, dan tentunya wahana untuk saling berdebat. Ada satu kesamaan tema yang seringkali muncul berbarengan di imgur dan facebook. Mungkin pengguna imgur adalah pengguna facebook juga, walaupun saya ragu, karena pandangan di ranah keduanya sangat lah berbeda –imgur diisi oleh orang-orang yang tidak kita kenal, sebaliknya dengan facebook, kecuali anda asal accept friend. Meski demikian, temanya seringkali sama, salah satu yang menarik perhatian saya adalah tentang vaksinasi anak. Banyak yang bilang di facebook bahwa vaksinasi membuat anak menjadi autis. Dengan infografis yang mencenangkan ! Infografis yang dihina habis-habisan oleh imgurian. Berbeda bukan ? facebookers menentang vaksinasi, sedangkan imgurian mendukungnya.

Kalau mau melihat di dunia imgur, mereka-mereka biasanya menentang para kaum kolot yang mudah terpengaruh dengan info-info yang berseliweran di internet. Di Indonesia, di dunia perfacebookan, biasanya info-info seperti ini mereka sebar lewat facebook setelah mereka terima dari broadcast BBM (Blackberry Messenger). Namun yang akan saya bahas bukanlah metode penyebarannya, tetapi bagaimana mereka menyikapi info tersebut. Orang yang kolot biasanya langsung menerima begitu saja, menerima alasan yang terdengar logis –tanpa kroscek terlebih dahulu. Bagi mereka, tulisan yang tidak jelas juntrungannya seperti:

vaksin cacar mampu mengakibatkan autisme karena di dalamnya terkandung bahan-bahan yang menyebabkan autisme. Tertanda, Dokter Robert, spesialis anak.”

Lebih mampu mereka percaya daripada jurnal-jurnal ilmiah yang mentereng seperti Bulletin WHO atau Milbank Quarterly, dan sejenisnya. Yah, walaupun kita juga tidak boleh melupakan kasus vaksin Rubella yang dituduh menyebabkan autisme oleh Andrew Wakefield yang ternyata bukan penelitian valid namun sempat dipublikasikan oleh the Lancet, salah satu jurnal ilmiah paling tua dan kredibel di dunia. Tentunya kita juga harus melakukan perbandingan dan lain-lain. Namun, bagi saya pribadi, ketika pemerintah sudah mengesahkan sebuah vaksin, maka vaksin itu sudah cukup kredibel, walaupun wajar sekali apabila kita ragu dengan yang namanya pemerintah. Sama halnya dengan vaksin meningitis yang konon mengandung enzim babi. Mungkin saya terdengar lancang, tapi apabila vaksin itu efektif, mengapa tidak ? Toh konon tidak semua mengandung babi, dan yaaahhh, jikalau iya, Tuhan Maha Tahu dosanya ditanggung siapa.

Lalu apa hubungannya pendaratan di bulan yang dibilang palsu, dan vaksin yang dibilang menyebabkan autisme ? Keduanya dibilang menentang sains. Dan keduanya menjadi contoh dalam artikel National Geographic tersebut. Selain itu, ada juga teori-teori lain seperti bumi yang datar oleh Orlando Ferguson (ada petanya), juga teori bahwa global warming tidaklah sedang terjadi. Bagi saya, bumi itu bulat. Bisa dibuktikan dengan Foucault’s Pendulum. Metodologinya masuk akal, dan pembuktiannya bisa kita lihat sendiri di Pantheon, Paris. Kalau Foucault hidup sejaman dengan Galileo Galilei, saya yakin nasibnya akan sama. Mungkin mereka akan dibakar bersebelahan. Bagaikan pasangan sesama jenis yang berselingkuh, lalu berzinah di depan umum. Bagaimana dengan global warming ? Ini saya masih kurang baca, tapi ya memang, bumi makin panas. Apapun alasannya, entah itu karena polusi, atau karena siklus bumi sendiri, atau keduanya, yang pasti, ibu saya pernah bercerita tentang bagaimana terumbu karang yang sekarang mudah rusak karena ia larut dalam air laut yang makin menghangat. Ada juga teori populer di mana es di Antartika kerap menyusut dari waktu ke waktu.

Bumi datar menjadi bumi bulat, bumi yang biasa-biasa saja menjadi bumi yang panas. Fakta-fakta ini baru diketahui kemudian, melampaui fakta yang diketahui sebelumnya. Dalam Filsafat Ilmu Pengetahuan, fase ini disebut dengan perubahan paradigma. Perubahan cara pandang ilmiah terhadap sesuatu. Perubahan paradigma ini menjadi suatu hal yang penting dalam ilmu pengetahuan, terutama dalam ilmu pengetahuan sosial. Karena dengan perubahan cara pandang inilah ilmu baru dapat ditemukan. Dengan gajah dan orang buta sebagai pembanding, perubahan paradigma bagaikan menambahkan seorang lagi orang buta untuk meraba si gajah. Apabila sebelumnya yang terraba adalah kuping yang lembek dan gading yang keras, si orang buta baru bisa saja beraba pantat gajah yang besar. Sehingga konsep terhadap gajah makin lengkap, dan makin mendekati konsep gajah secara utuh.

Apa yang ada di masyarakat dapat dieksplorasi dengan penemuan-penemuan baru. Penemuan ini bisa muncul dari perubahan paradigma tadi. Dengan perubahan paradigma, maka hal baru bisa diteliti dan menjadi suatu karya saintifik. Ketika sudah menjadi karya saintifik, ia tak berarti tak terbantahkan, ia tetap terbantahkan ketika ada fakta baru yang muncul. Fakta baru. Inilah yang coba saya garis bawahi di sini. Tentang fakta baru yang dapat merubah kesatuan ilmu yang dulunya sudah berdiri ajeg di tempat. Kaku, tak bergerak. Bagai kakek tua yang sudah malas bergerak karena sendi-sendinya sudah berkarat. Bagi saya, kutipan berikut yang akan saya kutip bisa jadi pelumas dan ambrosia buat si kakek, karena kutipan di bawah inilah saya menulis tulisan ini, dikaitkan dengan Studi Jepang di (Universitas) Indonesia.

Justru karena mereka (ilmuwan) netral, sains menjadi begitu ampuh. Karena sains menyatakan kebenaran sesungguhnya, bukan kebenaran yang kita inginkan. Ilmuwan memang bisa dogmatis seperti orang lain –tetapi mereka mau melepaskan dogma jika ada penelitian baru. Dalam sains, kita tidak berdosa jika berubah pikiran saat dituntut oleh bukti. Bagi sebagian orang, suku lebih penting daripada kebenaran; bagi ilmuwan terbaik, kebenaran lebih penting daripada suku.[1]

 

 

 

Tentang Studi Jepang, Filsafat Ilmu, dan Interdisipliner

Sebelum lebih jauh lagi dalam membahas tentang Studi Jepang dan Filsafat Ilmu, akan dipaparkan terlebih dahulu tentang apa itu Studi Jepang, karena jika tidak mengejawantahkan konsep per-konsep, dikhawatirkan ada kesalahpahaman dalam mencoba mengerti tulisan ini.

Studi Jepang adalah bagian dari studi kawasan yang berfokus kepada kawasan Jepang. Studi kawasan sendiri adalah bidang studi interdisipliner yang mempelajari suatu kawasan geografis, nasional atau federal, dan kultural. Biasanya, studi ini melibatkan: sejarah, ilmu politik, sosiologi, studi-studi budaya, bahasa, geografi, kesusastraan, dan berbagai disiplin ilmu yang berkaitan. Selain itu, studi kawasan juga seringkali membahas diaspora dan emigrasi dari kawasan yang berkaitan.

Jepang sendiri adalah sebuah negara kepulauan yang terletak di kawasan Asia Timur. Mendefinisikan sebuah negara tidaklah sulit, karena ia bisa dikuantifikasikan. Misal, dengan titik koordinatnya, batas geografis, atau dengan mengacu kepada syarat negara secara tradisional yang diambil dari konvensi Montivideo serta turunan-turunannya: Wilayah, Rakyat, Pemerintah, dan Kedaulatan (pengakuan dari negara lain).

Dalam studi Jepang, yang dipelajari adalah sejarah Jepang, perpolitikan Jepang baik dalam maupun luar negeri, kemasyarakatan Jepang, studi-studi budaya Jepang, Bahasa Jepang, geografi Jepang, kesusastraan Jepang, dan berbagai disiplin ilmu lainnya seperti ekonomi. Karena bersifat studi interdisipliner –sebuah pakem ilmu yang melihat suatu masalah dari berbagai macam sudut pandang keilmuan. Contoh bagaimana studi interdisipliner bekerja dalam studi Jepang adalah dengan meneliti permasalahan ekonomi Jepang. Untuk memahami bubble era misalnya. Tidak hanya dibutuhkan ilmu ekonomi untuk menjelaskannya, tetapi juga ilmu tentang kebudayaan yang mengakibatkan bubble terjadi di Jepang, tetapi tidak di negara lain. Salah satu penyebabnya adalah Keiretsu, sebuah sistem dalam perusahaan Jepang di mana perusahaan besar di Jepang memiliki saham anak perusahaannya dalam sebuah satuan yang saling mengikat. Keiretsu sendiri apabila ditilik dari sejarahnya, memiliki pengaruh dari pendudukan Amerika Serikat, yang berarti ada pengaruh dari bidang ilmu politik Jepang.  Dengan kata lain, untuk menjelaskan suatu fenomena ekonomi, dibutuhkan tidak hanya ilmu ekonomi, tetapi juga ilmu politik (dan sejarah).

Dalam perjalanan Studi Jepang yang selama ini saya tempuh, yang paling sering beririsan dengan fenomena-fenomena yang terjadi di Jepang adalah tentang kebudayaan. Tentu saja. Salah satu yang membuat manusia menjadi manusia adalah kebudayaan. Apa itu kebudayaan ? Apabila mengacu kepada definisi lama yang melegenda dari Bapak Selo Soemardjan: Kebudayaan adalah semua hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. Saya yakin definisi ini telah muncul berulang kali di berbagai macam kesempatan. Namun, definisi yang seperti ini cenderung hanya membahas bentuk material dari budaya itu saja, seperti guci, sendok, dan garpu misalnya. Definisi ini tidak mencakup cara hidup orang dari kebudayaan tertentu. Jikalau demikian, definisi kebudayaan ini tidak akan efektif apabila diaplikasikan dalam Studi Jepang, yang membutuhkan dinamisme yang luar biasa dari setiap irisan studi interdisiplinernya. Karena itulah saya mencoba mengambil definisi kebudayaan dari Clifford Geertz yang ditambah dengan kritik dari Bapak Bachtiar Alam, salah seorang dosen Studi Jepang di Universitas Indonesia.

 

Kebudayaan didefinisikan oleh Clifford Geertz (Geertz, dalam Alam 2014: 35-41) sebagai :“an historically transmitted pattern of meanings embodied in symbols…by means of which men communicate, perpetuate, and develop their knowledge about and attitude toward life”. Namun, bagi Bachtiar Alam (2014: 35-41), kebudayaan adalah sesuatu yang bersifat dinamis, ia bisa berubah, apa lagi berkaitan dengan ‘subjek pendukung kebudayaan’ yang dapat mengambil bagian dalam proses konstruksi kebudayaan, yang pada gilirannya berkaitan erat dengan kekuasaan serta kepentingan.

 

Cetak tebal di atas bukan kesalahan, tapi disengaja. Karena 3 kata dan 1 frasa itu sangatlah penting, dan inilah yang seringkali tidak dihiraukan oleh penstudi Jepang lainnya. Esensialisme, itulah kata kunci yang dikedepankan oleh Bapak Bachtiar Alam. Kembali mengutip bukunya:

Colson dalam Vayda (1994:322) dalam Alam (2014: 40):

Essentialism is a reductionist view of culture as the immutable values that are fundamental for guiding the way particular people deal with each other and with their environment. An essentialist view holds that these values are not situational or time-linked, but constant and permanent, therefore they can be treated as eternal principles to predict particular people’s behavior over time and under all circumstances.”

Kurang lebih bisa saya ringkas sebagai berikut: esensialisme menganggap bahwa budaya adalah sesuatu yang statis dan tidak akan pernah berubah seiring zaman. Orang Jepang akan tetap menjadi orang Jepang yang wabi-sabi, bushi, tertib, dan lain-lain. Ini seringkali wajib dikaitkan dengan aspek-aspek Jepang di masa modern, karena hal-hal yang disebutkan tadi adalah bagian dari kebudayaan Jepang. Mereka tidak akan berubah walaupun kelak Orang Jepang sudah hidup di luar angkasa, karena bagi para esensialis, hal-hal tersebut adalah sesuatu yang terus diturunkan kepada keturunan orang Jepang tanpa ada gangguan dari pihak lainnya.

Benarkah demikian ? Bagi saya tidak. Tidak ada kebudayaan yang abadi, karena ia tidak bersifat natural. Kebudayaan bukanlah bawaan lahir. Ini bisa diargumentasikan secara ilmiah. Ambil contoh Genie, seorang Feral Child (anak liar) yang sejak lahir hingga berumur 13 tahun hidup dalam isolasi. Genie adalah seorang Amerika. Tetapi ia tidak bisa berbicara dalam Bahasa Inggris yang merupakan kebudayaan Amerika, tidak bisa makan dengan pisau dan garpu yang merupakan kebudayaan Amerika, dan lain-lain. Ya, Genie tidak mendapatkan transmitted pattern of meaning –dari definisi Geertz, oleh orang tuanya. Ah, tapi mungkin contoh ini tidak adil, karena Genie memang terputus dari lingkungannya. Mungkin akan saya coba contoh lain.

Orang Jepang tertib dengan waktu misalnya. Orang Jepang bisa tepat waktu bukan karena mereka terlahir sebagai orang Jepang. Tetapi, ini adalah bagian dari program pemerintah Jepang di masa pasca Perang Dunia II. Ini semua dapat dilihat di dalam buku Sheldon Garron yang berjudul Molding Japanese Minds. Dalam buku itu dijelaskan, Jepang bisa menjadi “bangsa yang tepat waktu” adalah karena kampanye oleh pemerintah Jepang di masa itu. Berarti, sebelumnya tidak ada kebudayaan yang berbunyi bahwa orang Jepang adalah orang yang tepat waktu. Ini berarti kebudayaan berubah. Berubah karena dipaksa oleh kuasa. Ini kembali ke definisi dari Bapak Bachtiar Alam yang saya tebalkan tadi. Berkaitan erat dengan kekuasaan –pemerintah Jepang di masa itu, dan kepentingan –membuat rakyat Jepang menjadi lebih produktif dan membantu pendapatan Jepang yang baru kalah perang. Ia berubah, sesuai dengan subjek pendukung kebudayaannya –negara.

Lalu, apa hubungannya semua ini dengan filsafat ilmu ?

Begini. Para esensialis percaya bahwa budaya itu tidak berubah –menurut saya sih, saya belum menemukan literatur yang secara gamblang membahas ini, karena bagi mereka itu adalah kebenaran yang mereka terima melalui ilmu pengetahuan. Ketika mereka menganggap itu sebagai ilmu pengetahuan, maka itu adalah sebuah kebenaran. Dan kebenaran tidak akan berubah. Bagi saya, itu adalah suatu kesalahan dalam memandang ilmu. Memang untuk mendapatkan “orang Jepang tepat waktu” dibutuhkan juga penelitian. Mungkin survey dan statistik, dan lain-lain. Mungkin itu benar secara ilmiah tapi, kebenaranilmiah pun tidak akan menjadi selamanya benar, apalagi dalam ilmu sosial. Ada kondisi di mana mereka bisa –dan akan berubah.

Bagi Marcia McNutt, seorang ahli geofisika dan editor Science, sebuah jurnal bergengsi, “ilmu pengetahuan bukanlah sekumpulan fakta. Ilmu pengetahuan adalah metode untuk menentukan apakah hal yang kita yakini sesuai dengan hukum alam atau tidak.” Kata kuncinya adalah ‘bukalah sekumpulan fakta’[2]. Ya, ilmu pengetahuan bukanlah kebenaran. Tetapi ia adalah semacam lensa yang memperjelas kebenaran. Karena kebenaran yang hakiki hanyalah Tuhan yang tahu –bagi mereka yang percaya, dan kebenaran yang hakiki belum bisa ditemukan hingga sekarang –bagi mereka yang tidak percaya dengan Tuhan. Mungkin kutipan tadi akan lebih cocok apabila diaplikasikan ke ilmu alam, namun, ‘bukanlah sekumpulan fakta’ inilah yang membuat kita tidak boleh menjadi sombong dengan apa yang tadinya kita sudah dan selalu percayai.

Mengutip kembali dari majalah National Geographic tadi, “Dalam sains, kita tidak berdosa jika berubah pikiran saat dituntut oleh bukti.” Bagi saya, justru kita berdosa jika TIDAK berubah pikiran saat dituntut oleh bukti. Kekeraskepalaan terhadap ilmu yang sudah ada adalah dosa bagi seorang ilmuwan. Karena apabila ilmu dianggap statis, maka ia tidak akan berkembang. Pemikiran seperti ini bisa didapat dari Filsafat Ilmu. Karena dalam filsafat ilmu, kita dapat belajar tentang struktur ilmu pengetahuan sendiri. Kelebihannya, maupun kekurangannya.

Dalam buku Jujun Sudharminta, sebuah pengantar filsafat ilmu –sebuah buku legendaris, salah satu sifat yang dibutuhkan oleh ilmuwan adalah skeptisisme. Ironisnya, skeptisisme adalah sesuatu yang saya gembar-gemborkan sejak awal. Sesuatu yang saya anggap buruk. Tapi tunggu dulu, skeptisisme di sini berbeda. Skeptisisme ilmu pengetahuan apabila dilihat secara negatif, maka ia akan menolak segala macam bukti dan fakta baru apabila bukti dan fakta itu bertentangan dengan apa yang ia anggap benar selama ini. Sedangkan apabila dilihat dari segi keilmuan secara positif, skeptisisme adalah sebuah kehati-hatian dalam menerima kebaruan. Kebaruan itu penting tentu saja, namun sebagai ilmuwan yang baik, kita tidak boleh menelan kebaruan itu secara mentah-mentah. Setidaknya, apabila tidak bisa memasaknya, kunyahlah dulu kebaruan itu, karena apabila ditelan secara mentah-mentah, maka kebaruan itu bisa saja salah, bahkan menyesatkan, seperti vaksin yang menyebabkan autisme oleh Andrew Wakefield. Malah terkadang, sebelum menerima kebaruan, ada baiknya apabila kita melihat dari sisi lainnya terlebih dahulu.

Sebelum memberikan simpulan, izinkan saya mengutip dan sedikit membahas pemikiran dua orang filsuf modern yang banyak berbicara tentang ilmu pengetahuan dan kebudayaan: Michel Foucault dan Noam Chomsky.

Dimulai dari Foucault yang berujar “Man is an invention of recent date.” Bagi Foucault, manusia memperlakukan ide ‘manusia’ sebagai sesuatu yang natural dan abadi, namun arkeologi pemikiran kita menunjukkan bahwa manusia sendiri baru muncul sebagai sebuah objek studi di awal abad ke-19 (melalui filsafat), dengan kata lain, manusia adalah penemuan yang bisa dibilang baru. Foucault sendiri tertarik dengan bagaimana diskursus –cara kita berbicara dan berpikir tentang banyak hal, terbentuk oleh aturan yang tanpa disadari muncul dari kondisi historis di mana kita berada. Kita membicarakan hal yang kita anggap sebagai ‘akal sehat’ tanpa sadar bahwa ‘akal sehat’ ini terbentuk oleh aturan yang tidak kita sadari dan kondisi historis tadi. Aturan dan kondisi ini berubah seiring zaman, oleh karena itu, bagi Foucault arkeologi pemikiran sangatlah penting. Tentang bagaimana pemikiran berubah dari waktu ke waktu, dan bagaimana kita tidak bisa menganggap konsep dalam konteks masa sekarang sebagai sesuatu yang abadi. Kita membutuhkan genalogi sejarah terhadap konsep-konsep tadi[3].

Genealogi sejarah terhadap konsep. Ini adalah suatu hal yang cukup penting yang nampaknya akan sangat menarik apabila diajarkan di Studi Jepang. Apabila kembali ke contoh ‘orang Jepang tepat waktu’ tadi, maka genealoginya bisa diambil dari awal ketika Jepang kalah perang, dan pemerintahnya mulai menggalakan hidup teratur. Tentang bagaimana pemerintah mempromosikan ide tersebut sehingga ide itu tertanam di benak orang-orang Jepang. Tidak berhenti sampai di situ, bagaimana pemerintah dan orang-orang Jepang kemudian terus memelihara ide itu, dan menjadi sesuatu yang –mengambil konsep Roland Barthes, dimitoskan, lalu kemudian dijadikan sebagai sesuatu yang khas dan natural dari orang Jepang (walaupun sebenarnya tidak, namanya juga mitos). Dengan genealogi ini, kita dapat lebih memahami, apa yang sebenarnya menjadi struktur dari kebudayaan orang-orang Jepang itu sendiri. Bagi saya, seorang penstudi Jepang sejati bukan hanya harus mengerti apa yang menjadi ‘akal sehat’ bagi orang Jepang, tetapi juga harus mengerti MENGAPA dan BAGAIMANA hal itu menjadi ‘akal sehat’ bagi orang Jepang.

Yang kedua adalah Noam Chomsky, dengan kutipan “if we choose, we can live in a world of comforting illusion.” Kutipan ini memang ditujukan untuk negara, namun, apabila kita cukup cermat untuk ‘menarik’-nya ke dunia konsep, maka ia bisa digunakan ke apapun yang bersifat otoritarian. Maksudnya, punya kuasa. Dalam menjelaskan kutipan tadi, kurang lebih seperti ini; apabila kita berasumsi bahwa pemerintah/negara/otoritas yang mengekang kita secara natural lebih etis daripada pemerintah/negara/otoritas lainnya, maka kita memilih untuk hidup di dunia ilusi yang nyaman. Untuk menghancurkan ilusi itu, kita harus mencari bukti tentang apa yang sebenarnya dilakukan oleh pemerintah/negara/otoritas kita, dan mengaplikasikan prinsip etis yang kita gunakan ke negara lain, ke negara kita sendiri[4].

Dengan kata lain, apa yang kita lihat, kita rasa, kita anggap benar selama ini, belum tentu benar adanya. Ada kekuasaan di sana yang memaksa kita untuk melihat, merasa, menganggap sesuatu sebagai sesuatu yang benar adanya dan tidak bisa dipersalahkan. Untuk membongkar asumsi itu, maka kita harus melihat secara objektif dan menyeluruh tentang apa yang sebenarnya pemilik kuasa itu lakukan. Dalam dunia keilmuan, ini bisa diaplikasikan –mungkin, kurang lebih, kepada cabang ilmu kita sendiri. Seringkali kita menganggap cabang ilmu kita adalah yang paling benar –bahkan dalam studi interdisipliner. Ini wajar, sama seperti negara, cabang ilmu kita adalah tempat di mana kita ditumbuhkembangkan. Bagaimana kita diberitahu –dengan metode yang mantap, apa yang benar, dan apa yang tidak benar atau belum benar. Namun, kita sendiri terkadang lupa. Lupa dengan skeptisisme ilmiah yang positif tadi. Bagaimana dengan teori gajah juga. Apakah kita mau menjadi seorang bebal yang tidak mau melihat atau meraba gajah itu dengan cara lain ? Dari arah lain, dari sudut pandang lain ? Ya. Kenyataan tentang gajah bukanlah belalainya, bukan juga gadingnya, bukan juga ekornya, tetapi gajah sebagai sebuah kesatuan. Begitu juga dengan kebenaran. Ia tidak hanya bisa dilihat dari satu sisi saja. Bukankah itu makna hakiki dari studi interdisipliner ?

Walaupun tentunya dalam penelitian tesis atau disertasi akan ada batasan tentang apa yang mau diteliti, dan bagaimana cara menelitinya, tentunya akan sangat bijak apabila peneliti diberikan kebebasan –selama tidak keluar koridor keilmiahan yang dipegang oleh universitas, tidak ada yang mau menjadi Feyerabend di sini- dalam penelitiannya. Seorang pembimbing yang baik harus dapat menerima kebaruan, mendukung dari belakang, sedikit mengoreksi dan meluruskan, tanpa harus terlalu banyak ikut campur di dalam prosesnya. Mungkin, mungkin karena itulah di negara-negara berbahasa Inggris, pembimbing tesis atau disertasi disebut dengan adviser, pemberi saran.

Kebenaran tentang orang Jepang bukan hanya wabi dan sabi, bukan hanya bushido, ia lebih dari itu. Tidak sesempit itu. Kebenaran tentang orang Jepang berada mengakar di dalam sejarah, ilmu politik, sosiologi, studi-studi budaya, bahasa, geografi, kesusastraan, dan berbagai disiplin ilmu yang berkaitan, dan semuanya selalu berubah. Adalah tugas kita sebagai penstudi Jepang untuk meneliti dan memahaminya. Menghancurkan relung-relung ilusi yang menyelimuti sebuah konsep bernama Jepang. Menemukan kebenaran dibalik ‘kebenaran’.

 

 

[1] Joel Achenbach dalam National Geographic Indonesia edisi Maret 2015. Era Ketidakpercayaan. hal 45

[2] Ibid national geographic Indonesia hal 38

[3] DK, The Philosophy Book: Big Ideas Simply Explained. London: DK. 2010. Hal 302

[4] Ibid hal 304

h1

Masalah Itu Bernama Identitas

July 27, 2017

Dunia sepak bola Indonesia kembali berduka. Kali ini, seorang pemuda Bandung harus kembali meregang nyawa sekembalinya ia dari pertandingan sepak bola. Ricko Andrean menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Santo Yusup Bandung akibat luka yang diterimanya ketika ia menyaksikan “Big Match” antara Persib melawan Persija. Ricko adalah seorang Bobotoh tulen. Ia kerap kali meninggalkan pekerjaannya untuk menyaksikan tim kesayangannya bertanding. Nahas, dalam pertandingan itu Ricko menyaksikan pemandangan brutal yang baginya tidak pantas oleh dilakukan sesama manusia. Sekelompok Bobotoh nampak menghajar orang yang dicurigai sebagai Jakmania -pendukung Persija Jakarta. Ricko pun dengan inisiatif melindungi Jakmania tersebut sebagai sesama manusia. Namun takdir berkata laim. Ricko yang hari itu tidak memakai penyiri identitasnya sebagai Bobotoh malah dituduh sebagai seorang Jakmania. Dia dihajar tanpa ampun.

Ricko lalu dibawa ke rumah sakit AMC Cileunyi, namun karena kondisinya yang cukup parah, ia dibawa langsung ke Rumah Sakit Santo Yusup. Di sana, Ricko menjadi pusat perhatian. Ada banyak tokoh masyarakat yang hadir menjenguk dan memberi santunan kepada Ricko, mulai dari walikota Bandung Ridwan Kamil, pemain Persib Kim Jeffrey dan Atep, manajer Persib Wak Haji Umuh Muchtar, ketua kelompok bobotoh terbesar Viking Heru Joko, hingga ketua Jakmania Ferry Indra Syarif. Dua nama terakhir datang bak isyarat untuk sebuah kejadian yang sebenarnya sudah sangat ditunggu insan sepak bola Indonesia terutama Bandung dan Jakarta: perdamaian antara Bobotoh dan Jakmania.

Bobotoh dan Jakmania sebenarnya bukanlah entitas yang bisa disejajarkan. Bobotoh adalah penggemar Persib pada umumnya, mereka cair dan tidak terikat pada organisasi apapun kecuali Persib. Tidak perlu kartu anggota untuk menjadi seoramg Bobotoh. Sedang Jakmania adalah wadah untuk para penggemar Persija. Ini masih bisa diperdebatkan, namun saya rasa, nama Jakmania sendiri sudah bergeser dan memiliki konteks yang nyaris mirip dengan Bobotoh.

Rivalitas Persib dan Persija sebenarnya sebuah rivalitas yang dapat dikatakan “lucu.” Seringkali laga ini diberi embel-embel seperti “El Clasico”-nya Indonesia atau Indonesian Derby, dan lain-lain. Tak jarang para komentator yang entah sedang mabuk apa membandingkan rivalitas ini dengan Madrid vs Barcelona atau Celtic vs Rangers. Tanpa latar belakang sejarah yang kental, Madrid yang mewakili Bangsa Spanyol dan Barcelona yang mewakili bangsa Katalan, atau Celtic yang mewakili kaum Protestan dan Rangers yang mewakili kaum Katolik. Orang Bandung dan Orang Jakarta, tidak pernah punya masalah yang berkaitan dengan identitas masing-masing. Sunda dan Betawi damai, tidak pernah ribut bahkan dalam sejarah panjang keduanya.

Rivalitas kedua klub ini diawali oleh fans juga. Awalnya, Jakmania ditolak masuk ke Stadion Siliwangi karena pada waktu itu Siliwangi sudah penuh. Entah kenapa, Jakmania yang datang dengan damai malah dilempari. Dimulailah rivalitas yang tidak sehat di antara dua suporter ini. Sayangnya, rivalitas ini dipelihara, namun disebarkan dengan cara yang tidak baik. Ribut antar suporter sudah menjadi hal yang dianggap biasa bahkan malah dianggap membanggakan. Coba saja cari screenshot di mana baik Bobotoh maupun Jakmania dengan bangga membagikan “karya agung” mereka yang berlumuran darah, dengan judul “mati kau Vikjing/Jaknjing/Bobodoh/dan istilah merendahkan lainnya”. Menjijikan. Saya tidak menyarankan anda-anda untuk mencarinya.

Ini tentu menimbulkan pertanyaan, kenapa bisa mereka bisa sampai sebegitunya ? Tentu banyak sekali faktor yang bisa dikaitkan dengan kasus ini. Namun, saya tertarik dengan sebuah kutipan dari seorang penulis berkebangsaan India, yang merupakan seorang ahli poskolonialisme. Namanya Gayatri Spivak. Kutipannya sendiri saya dapat dari seorang penulis berkebangsaan Prancis yang bernama Laurent Binet. Binnet adalah seorang penulis novel yang tertarik dengan tema Perang Dunia Kedua. Novelnya yang berjudul HHhH adalah salah satu buku favorit saya. Binet mengutip Gayatri Spivak yang menyatakan bahwa: “saya membenci identitas. Tidak ada konsep yang lebih membahayakan daripada ini.”

timeline_20170727_215452

Baik Spivak maupun Binet tentu sangat akrab dengan konsep identitas. Poskolonialisme adalah sebuah pandangan yang menjadikan identitas sebagai inti utama pembicaraan mereka, sedangkan Binet yang membahas Perang Dunia II tentunya paham betul bagaimana identitas adalah salah satu bahan bakar utama dalam kobaran api kebencian semasa perang.

Identitas adalah sebuah konsep yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari seseorang. Ia melekat kepada diri seseorang. Suku, Agama, Ras, Klub Sepak Bola Kesukaan, bahkan hingga warna mobil kesayangan pun dapat menjadi sebuah identitas yang melekat pada diri seseorang. Pada masa ini, tidak bisa dipungkiri kalau identitas adalah salah satu hal penting yang dirasa wajib dimiliki seorang manusia.

Saya tidak mengelak bahwa saya pun memiliki identitas dan cukup bangga dengan identitas tersebut, entah itu yang diberikan oleh Tuhan, maupun yang saya pilih sendiri. Tuhan memilih saya untuk lahir di Bandung dari pasangan orang Sunda. Itu membuat saya menjadi orang Bandung sekaligus orang Sunda. Bangga ? Lumayan. Siapa sih yang tidak mau bangga dengan diri sendiri ? Kalau ditanya, di mana ingin tinggal, tentu jawabannya di Bandung. Jadi orang Sunda bangga ? tentu saja. Orang Sunda ini salah satu yang tidak takluk dengan kerajaan terbesar di Nusantara loh. Dengan begitu apa sudah cukup bangga dengan diri sendiri ? Belum ! Masih banyak yang bisa saya pilih untuk saya sombongkan ! Saya anak Unpad, juga anak UI, fans AC Milan yang sudah berkali-kali menang Liga Champion Eropa, juga fans Persib yang juara beberapa tahun yang lalu ! daaaannn seterusnya. Dari situ kita bisa lihat, identitas itu ada yang diberikan Tuhan (Suku, tempat lahir dan tinggal), ada yang harus diraih (kampus-kampus, pekerjaan), namun ternyata ada juga yang bisa dipilih dengan seenaknya (klun sepak bola kesukaan). Dengan kata lain, identitas ini ada yang harus didapatkan dengan nasib, usaha, atau gratis.

Nah, sekarang, apa pentingnya identitas di masa sekarang ? Penting sekali. Sekarang, orang kerap kali membanggakan identitasnya. Akibat apa ? Macam-macam. Tapi yang paling mengena adalah globalisasi dan internet beserta turunan-turunannya. Globalisasi memberikan ruang informasi yang lebih luas untuk masyarakat. Masyarakat menjadi paham bahwa ada banyak identitas lain yang selama ini tidak pernah mereka lihat. Selain itu, globalisasi juga “menuntut” kita untuk memiliki identitas agar kita memiliki tempat dalam globalitas dunia.

Agar tidak terlalu berkembang, saya coba gambarkan secara langsung melalui sepak bola. Sebelum globalisasi dan internet (Globalization 3.0 kalau kata Friedman), masih jarang orang yang tahu tentang hooliganisme. Dulu, orang menonton sepak bola murni karena mereka cinta klub sepak bola itu, dan karena klub sepak bola itu datang dari tempat di mana mereka tinggal. Tentu inilah sewajar-wajarnya orang menyukai sebuah klub sepak bola. Namun lama kelamaan, makin banyak “aturan” untuk menyukai klub sepak bola. Misal, untuk jadi fans sejati, maka harus datang ke stadion. Atau, untuk menjadi fans yang keren, maka harus menjalani hooliganisme.

Hooliganisme sendiri dimulai di Inggris, dan di Inggris sekalipun Hooligan adalah kelompok yang dibenci para penikmat sepak bola Inggris. Kalau pernah menonton film Green Street Hooligan (2005), bisa dilihat bagaimana para Hooligan ini memiliki kebanggaan tersendiri ketika mereka berhasil menghajar fans dari klub sepak bola lain. Bagi saya ini konyol, dan walaupun datang dari Inggris, negara yang lebih maju dan memang lebih keren, ya tidak perlu ditiru karena tidak ada gunanya. Namun perbedaannya begini: di Inggris, mereka sadar Hooliganisme tidak baik untuk perkembangan sepak bola mereka. Sepak bola di sana sudah mulai menjadi industri ketika Hooliganisme ramai. Ya di saat itu juga lah mereka mengerahkan berbagai macam cara untuk menghentikan Hooliganisme itu sendiri. Di sini ? Wah. Tiket ilegal masih banyak. Tidak usah dibahas dengan rinci, karena saya takut kena UU ITE. Hahaha.

Di sisi lain (dan bagi saya, di sisi inilah identitas akan banyak dibicarakan), ada sebuah kondisi masyarakat di mana identitas menjadi penting lagi. Entah kenapa, belakangan ini identitas menjadi sesuatu yang kembali krusial. Dugaan saya, ini muncul karena tekanan sosial. Manusia butuh kebanggaan agar ia merasa diterima di dalam masyarakatnya. Ketika mereka tidak bisa melakukan sesuatu yang membanggakan secara positif dengan kapabilitasnya yang terbatas, maka mereka mencari pelampiasan dengan mencari identitas lain. Salah satunya ya itu, Hooliganisme, gebukin orang, lalu bangga.

Krisis identitas adalah sebuah konsep yang akrab dengan masyarakat dewasa ini. Orang yang merasakan krisis identitas akan mencoba mencari identitas seperti apa yang cocok dengan mereka, lalu di manakah mereka akan memiliki tempat di sebuah kelompok masyarakat. Nah, seperti yang sudah dibilang tadi, identitas itu kalau bukan nasib, kemampuan, ya gratisan. Salah satu yang gratisan adalah dengan menjadi fans sepak bola. Tidak bisa bayar tiket ? Pakai cara ilegal. Ingin menonjol di antara kawan-kawan ? Gebukin orang, lalu masukkan ke akun media sosial. Dengan cara seperti itulah mereka memenuhi krisis identitas mereka.

Di sini, peran media sosial sangatlah dahsyat. Banyak orang yang haus akan eksistensi di media sosial. Mereka akan melakukan apa saja demi mendapatkan pengakuan dari kelompok masyarakatnya melalui media sosial. Mungkin saya termasuk dengan menulis tulisan ini. Tapi entahlah, jujur, niat saya menulis ini hanya untuk curhat. Tentu ada rasa bangga ketika kita membagikan sesuatu di media sosial, orang lain mengomentari dengan positif bak gayung bersambut. Namun kembali, ketika tidak bisa menyuarakan sesuatu yang positif karena yang positif itu “wow factor” dan kadar “berbeda”-nya kurang, lebih mudah melakukan sesuatu yang negatif. Kembali, gebukin orang yang dianggap musuh oleh kelompok masyarakat di mana mereka adalah anggotanya.

Padahal, kalau mau menjadi terkenal di media sosial tidaklah begitu sulit kalau kamu kreatif. Banyak Bobotoh maupun Jakmania yang mampu menonjol dengan ciri khas masing-masing. Entah itu ada yang pakai baju pocong, pakai baju seperti Syekh Puji, atau mungkin pakai topeng macan seperti Tiger Mask, itu akan menjadi sesuatu yang unik dan menjadi sorotan. Membanggakan kan ?

Kondisi yang seperti ini menjadikan rivalitas Bobotoh dan Jakmania menjadi sesuatu yang mengerikan, membahayakan. Tentu zaman tidak bisa disalahkan sepenuhnya, seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, ini hanyalah salah satu faktor. Masih ada faktor lain yang harus diperhitungkan, seperti bagaimana para gegedug yang kekeuh agar permusuhan ini dipelihara, namun kurang memperhatikan bagaimana “di bawah” permusuhan ini seringkali dibumbui oleh cerita-cerita yang tidak sepenuhnya benar dan bersifat provokatif.

Melihat Heru Joko dan Ferry Indra Syarif yang makin mesra tentu memberikan angin segara kepada Bobotoh dan Jakmania yang ingin berdamai. Saya juga mulai melihat beberapa pentolan Viking mulai membuat tulisan-tulisan yang intinya menyatakan bahwa mereka sudah lelah dengan permusuhan ini. Di twitter –ladangnya adu omong kasar dan pamer gebukin orang, makin banyak Bobotoh dan Jakmania yang menyuarakan keinginan untuk damai.

Namun tentunya, ini tidak akan semudah itu. Bukan hanya Heru Joko dan Ferry Indra Syarif yang harus menyuarakan perdamaian, namun para gegedug legenda supporter dari kedua kubu harus ikut bersuara. Kordinator-kordinator di lapangan terutama. Saya tidak bisa menyebut nama karena jujur saja saya tidak tahu. Namun saya membayangkan, tentu ada kelompok-kelompok kecil di dalam Bobotoh (dan Viking) juga Jakmania yang mengorganisir dalam skala yang lebih kecil. Mereka harus berani menindak anak buah atau anggotanya yang membuat masalah, mereka juga harus menjaga situasi kondusif di stadion. Begitu juga dengan aparat dan pihak panpel pertandingan. Screening tiket harus diperketat. Harus ada larangan bagi fans yang ketahuan masuk dengan cara ilegal. Larang mereka masuk lagi ke stadion. Kalau perlu seumur hidup, dan di seluruh stadion di Indonesia. Kalian tidak akan rugi kok dengan cara seperti itu.

Kita tidak akan bisa menahan laju globalisasi yang sudah bak Juggernaut menghancurkan sana sini. Namun tentunya, kita bisa melindungi diri kita sendiri dan klub kesayangan kita agar tidak menjadi korban dari kegilaan zaman. Jadilah fans yang bermartabat. Jadikan mereka yang tewas atas nama rivalitas sebagai pengingat bahwa sepak bola ada untuk dinikmati bersama. Hingga suatu saat, ketika bertemu Ricko, Rangga, Harun, Gilang, dan yang lain yang sudah mendahului, kita semua masih punya wajah untuk “laporan” kepada mereka.

h1

Dunkirk (2017): Winning at The Losers End

July 24, 2017

Warning: this is a movie review written by a blogger who happened to like history, especially on World War II. So, expect some spoilers here. Heck, there are many books tell the story about Dunkirk already, it is a movie about a history anyway, a real one, not an alternate one. Bear with it. Lol.

Dunkirk_Film_poster

One of the best feeling when you watch a movie based on factual history is that you know how it ends. When you watch Letters from Downfall/Der Untergang (Hirschbiegel, 2004) you won’t be expecting Hitler won the war, and ultimately rule the world, right ? It is the same here.

I’ll explain a little bit about the background of the movie itself, since the background is only implied shortly on the movie. The title, Dunkirk refer to a place when one of the most amazing evacuation ever recorded in the history of mankind. Dunkirk or Dunkerque in French, is a region located in North French, it is the place when the British, Canadian, Belgian, and French Soldier are being evacuated to the coast of England. What makes this evacuation amazing is the fact that they did evacuate around 400,000 soldiers in 9 days using not only military ships, but also civillian ships. I think this is what the Indonesian New Order called about SISHANKAMRATA (Sistem Pertahanan dan Keamanan Rakyat Semesta/People’s Universal Defense and Security System), lol.

I’ll be extracting P. K. Ojong’s view from Perang Eropa I (2002) on Dunkirk in this paragraph. In the first half of World War II’s European theater, German troops easily breach through French’s defense with heavy tanks through the amazing commands from Henk Guderian, German’s Panzer Unit Legend. Their strategy on attacking French is a surprise Blitzkrieg through the Ardennes, unprotected by the Maginot Line which ended up as a Pincer Formation as the German are also attacking through Belgiuma and Netherland. Long story short, the Allies which include the British, Canadian, and Belgian army are surrounded and pushed back to Dunkirk beaches.

This is where the story start in Dunkirk (2017). It is narrated by three different views, the land that covers a week time of the Dunkirk war, the sea that covers one day, and the air that covers one hour. These line are non-linear, but at some points, the crossed with each other. In the land, the story is narrated from a surviving British soldier, Tommy (Fionn Whitehead), who is desperately trying to escape Dunkirk in any way possible. In the sea, story is narrated from a group of British civillian Peter (Tom Glynn-Carney), Mr. Dawson (Mark Rylance), and George (Barry Keoghan) who are a part of a recreational boat called “The Moonshine” which embark in a mission to transfer escaping soldiers in Dunkirk to Dover England. While in the air, is narrated from Collins (Jack Lowden) and Farrier (Tom Hardy) a pair of British Royal Air Force (RAF) pilot which is a part of a Spitfire squadron.

Each of these people are sharing their own horrors along the Dunkirk throughout the English Channel up until Dover. All of them have to face a part of German superiority during the first half of the European theater in World War II. Tommy have to face the bombardment of the Luftwaffe (German Air Force) while “competing” with his fellow British soldier to be the first to escape, while Peter, Mr. Dawson, and George have to go through a conflict with a shellshocked soldier saved by them at the sea while saving armies from a drowning warships under a Heinkel bombardment, and the RAF have to provide an aerial cover for the evacuation. Can you imagine the intensity ? You might not now, but don’t worry, Christoper Nolan will help you to feel so.

Nolan is a genius. No doubt about that. We can see in his earlier works, the Dark Knight Trilogy (2005-2012), The Prestige (2006), Inception (2010), and Interstellar (2014). Along with his tandem, Hans Zimmer, he can draw the audience into the movie itself. Well, this time, it is a war movie. A war movie throughout the eyes of the loser, where escape is the way to win. With his amazing cinematography, minimalist dialogues, and delicate timing of the background music, it creates a great atmosphere. I indulge it happily. There are some parts that made me cover my ears, held my breath as if I am a claustrophobic or in fear of drowning, acts up as I am a Spitfire pilot, and I even cried a little bit during some dramatic scenes.

The scenes feels real. It really maximize the dolby technology. The sound of bullet hitting the boat’s steel wall, or the psychological terror of German warplane which deliberately installed with a mechanism that allows them to give a squeling sounds as it get close to the ground, and even the sound of torpedo that silently hitting the boat. The minimum dialogue helps to set up the intensity of the scenes, it makes you focus on the whole scene –the sets, the people, the surrounding, rather than to the actors themselvs. It simply drags you into the movie.

If you ask me about the actors, I don’t know most of them. Honestly, I only recognize Tom Hardy and Cillian Murphy. Also Barry Keoghan for looking like Ezra Miller (LOOOLLL). But, I give all of them two thumbs up. All of them are equally great. Even the One Direction guy (which pointed out in the end by my wife), Harry Styles.

If there is anything bad to say about this movie, it lacks of bonds with the characters. The intensity of the movie, is traded with the character bonding. You know, sometimes, after watching a movie, you feel like you want to be in the movie, let’s say, after watching Inception, you want to be the part of the group that dives in into people’s dream. You want to be friend with them. Not with this one though.

I don’t know how to compare this with any other war movie or any other Nolan’s movie. This is the first time I feel something like this. It is almost like watching a perfect horror movie, without the traumatic aftermath. It is a technical masterpiece from Nolan, and I give it a solid 9 out of 10.

h1

July 13, 2017

View on Path